Hasil Pertanian Ludes Terserap Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis mulai dirasakan manfaatnya oleh sejumlah kalangan di Pamekasan. Petani mengaku lebih mudah memasarkan hasil panen, sementara keluarga siswa merasakan penghematan pengeluaran, meski mekanisme distribusi di sekolah masih dinilai perlu dievaluasi.

Muhammad Kholilurrahman besama beberapa petani yang sedang merawat tembakau di persawahan Desa Polagan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, Rabu (1/7/2026).

PAMEKASAN, MADURANET – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah wilayah Kabupaten Pamekasan menunjukkan dampak nyata bagi masyarakat. Tidak hanya dirasakan siswa sebagai penerima manfaat, program tersebut juga mulai memberi efek ekonomi bagi petani lokal yang menjadi pemasok bahan pangan.

Khairul Efendi (27), petani milenial asal Desa Dempo Timur, Kecamatan Pasean, mengaku mendukung penuh program MBG karena membuka kepastian pasar bagi hasil pertanian yang selama ini sering mengalami ketidakjelasan distribusi.

Menurut dia, keberadaan dapur MBG membuat petani memiliki gambaran yang lebih jelas terkait kebutuhan komoditas yang harus ditanam.

“Saya mendukung program MBG ini. Semenjak ada MBG, kami tidak bingung lagi pasar yang akan dituju,” kata Khairul, Rabu (1/7/2026).

Ia menjelaskan selama ini dirinya rutin berkomunikasi dengan pengelola dapur MBG terkait jenis bahan pangan yang sedang dibutuhkan. Dengan begitu, pola tanam yang dilakukan menjadi lebih terarah sesuai kebutuhan pasar.

“Saya selalu komunikasi tentang apa yang dibutuhkan dapur MBG, jadi saya bisa tanam yang memang dibutuhkan,” ujarnya.

Khairul mengaku dampak ekonomi dari program tersebut mulai dirasakan secara langsung. Selain omzet meningkat, perputaran hasil panen juga menjadi lebih cepat dibanding sebelumnya.

Menurut dia, sistem harga dalam program MBG juga dinilai lebih jelas sehingga petani tidak lagi khawatir terhadap praktik monopoli harga yang selama ini kerap terjadi di tingkat pasar.

“Di MBG harga juga sudah jelas. Jadi petani tidak takut lagi ada monopoli harga,” katanya.

Khairul sendiri tergabung dalam Yayasan Pertanian Sakera Farm yang fokus mengembangkan sektor pertanian di kawasan Pantura Pamekasan.

Selain bertani, ia juga aktif mengajar. Karena itu, ia mengaku memiliki kedekatan emosional terhadap program MBG karena melihat langsung manfaatnya bagi anak-anak di daerah pedesaan.

“Saya senang melihat anak-anak bisa makan, karena di desa pelosok seperti kami, bertani merupakan aktivitas wajib masyarakat,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Muhammad Kholilurrahman (25), petani muda asal Dusun Tangger, Desa Polagan, Kecamatan Galis.

Ia menilai program MBG merupakan kebijakan yang baik karena manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya keluarga siswa.

Menurut dia, meskipun belakangan muncul berbagai persoalan dan polemik terkait tata kelola program tersebut di tingkat nasional, substansi program tetap membawa manfaat nyata.

“Program ini bagus. Meskipun banyak kejanggalan seperti kasus korupsi dan sebagainya, manfaatnya tetap dirasakan langsung oleh anak-anak bangsa,” kata Kholilurrahman.

Ia mencontohkan perubahan sederhana yang terjadi di keluarganya sejak program itu berjalan. Adiknya yang duduk di bangku kelas satu SMP di Kecamatan Galis kini tidak lagi harus sarapan dari rumah karena telah mendapat jatah makan di sekolah.

“Adik saya sekarang pagi tidak usah makan lagi di rumah, jadi membantu kebutuhan pokok keluarga,” ujarnya.

Sementara itu, Guru yang berstatus honorer di SMP Negeri 8 Pamekasan, Fani Reza Safrijal, menilai program MBG secara prinsip merupakan langkah positif pemerintah dalam membantu siswa.

Ia mengatakan program tersebut dapat mengurangi pengeluaran siswa untuk membeli makanan di kantin sekolah sekaligus berdampak pada peningkatan kehadiran peserta didik.

“Saya setuju dengan program MBG, tetapi tidak dengan mekanisme penyalurannya,” kata Fani.

Menurut dia, terdapat sejumlah persoalan teknis di lapangan yang masih mengganggu proses belajar mengajar.

Salah satunya berkaitan dengan jadwal distribusi makanan yang sering datang di tengah kegiatan belajar, sehingga memecah fokus siswa saat proses pembelajaran sedang berlangsung.

“Ketika siswa sedang fokus KBM, tiba-tiba MBG datang dan kegiatan belajar langsung buyar karena siswa fokus mengambil makanan,” ujarnya.

Ia juga menilai pelibatan sejumlah institusi seperti DPR, kepolisian, dan TNI dalam pelaksanaan program perlu dikaji ulang karena masing-masing lembaga telah memiliki tugas pokok tersendiri.

“Saya setuju denga programnya, tapi tidak dengan mekanisme penyalurannya,” tegas dia.

Exit mobile version