Daya Fokus Baca Anak-anak Pamekasan Hanya 15-20 Menit

Perpustakaan Pamekasan menemukan anak-anak di sekolah dan pondok pesantren antusias membaca, tetapi kemampuan mempertahankan fokus masih menjadi tantangan.

Potret anak-anak Pamekasan saat mengunjungi Perpusda M. Tabrani Jalan Jokotole, Barurambat Kota, Kabupaten setempat.

PAMEKASAN, MADURANET – Antusiasme anak-anak terhadap buku masih terlihat di Perpustakaan Umum Daerah Pamekasan M. Tabrani. Sejumlah anak bahkan mampu menceritakan kembali isi buku yang telah mereka baca.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPKP) Kabupaten Pamekasan, Munapik, mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa rendahnya angka Tingkat Kegemaran Membaca (TKM), tidak serta-merta menggambarkan rendahnya ketertarikan anak terhadap buku.

“Bahkan, kami ketika turun ke beberapa sekolah, pondok pesantren, anak-anak atau santri itu antusias begitu ada buku baru,” kata Munapik.

Menurut dia, sebagian anak tidak hanya membaca buku, tetapi mampu memahami informasi yang dibacanya dan menceritakan kembali kepada orang lain.

“Anak-anak tingkat SD itu mampu menceritakan kembali apa yang dia baca. Jadi tidak hanya sekadar dia membaca, tetapi dia menyampaikan kembali informasi yang mereka dapatkan dari buku itu,” ujarnya.

Namun, persoalan lain muncul pada daya baca, terutama kemampuan anak mempertahankan konsentrasi selama membaca. Munapik menjelaskan, sebagian anak hanya mampu fokus membaca selama sekitar 15 hingga 20 menit. Setelah itu, konsentrasi mereka mulai berkurang.

Meski demikian, tambah Munapik, terdapat pula anak-anak yang memiliki daya baca lebih tinggi. Mereka mampu menyelesaikan satu buku sebelum berhenti dan kemudian melanjutkan membaca buku lainnya.

“Jadi anak-anak itu paling fokus baca buku 15 sampai 20 menit. Tapi ada beberapa anak yang memang daya bacanya tinggi. Kalau enggak selesai, dia enggak mau berhenti,” jelasnya.

Menurut Munapik, dalam tantangan literasi anak, bukan hanya bagaimana membuat mereka tertarik membaca, tetapi juga menjaga kebiasaan dan daya tahan membaca.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Pamekasan (Pemkab), dalam menjalankan berbagai program literasi. Salah satunya melalui perpustakaan keliling, yang mendatangi sekolah dan pondok pesantren.

Layanan tersebut dinilai efektif untuk mendekatkan buku kepada anak-anak. Perpustakaan juga menjalankan program Wisata Literasi, yang dikolaborasikan dengan sekolah melalui kegiatan read aloud atau membaca nyaring dan storytelling.

”Untuk anak usia taman kanak-kanak, kegiatan dilengkapi dengan aktivitas mewarnai. Sementara anak yang lebih besar, diajak mengikuti tantangan membaca dan mengenali identitas buku, mulai dari judul, penulis, penerbit hingga tahun terbit,” terang dia.

Selain mendekatkan buku, lanjut Munapik, pihaknya juga membuka kerja sama dengan komunitas dan lembaga pendidikan. Komunitas dapat meminjam sekitar 50 eksemplar buku, selama maksimal tiga bulan, kemudian menukarnya dengan koleksi lain.

”Upaya tersebut dilakukan karena perpustakaan sekolah, masih banyak berfokus pada penyediaan buku paket. Sementara koleksi buku pengayaan, dan cerita anak dinilai masih perlu diperbanyak, pungkasnya.

Exit mobile version