PAMEKASAN, MADURANET – Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) masyarakat Kabupaten Pamekasan pada 2025, tercatat 55,96, poin, turun dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 62,2. Angka tersebut menempatkan Pamekasan di posisi empat terbawah dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur.
Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Pamekasan, Kusairi, mengatakan, hasil pengukuran tersebut keluar sekitar Maret atau April 2026. Menurut dia, hasil TKM 2025 perlu dilihat dengan mempertimbangkan adanya perubahan metodologi pengukuran yang dilakukan Perpustakaan Nasional.
“Ya menurun. Tapi perlu dilihat, metodologi penghitungan poinnya diubah total oleh Perpustakaan Nasional,” katanya Kamis (10/9/2026).
Perubahan tersebut salah satunya berkaitan dengan mekanisme pengambilan sampel. Pada tahap awal, Perpustakaan Pamekasan mendapat informasi, bahwa terdapat sekitar 400 responden yang menjadi sasaran pengisian kuesioner.
“Namun, setelah dilakukan seleksi oleh Perpustakaan Nasional, sebagian responden dinilai memiliki potensi bias sehingga diperlukan tambahan sampel,” sambungnya.
Persoalan muncul ketika Perpustakaan Pamekasan hendak melakukan sampling tambahan. Saat itu, kata Kusairi, tautan kuesioner yang digunakan untuk pengumpulan data ternyata sudah ditutup oleh Perpustakaan Nasional.
“Jadi ada kemungkinan jumlah sampling dari Pamekasan itu tidak mencapai target, sementara pembaginya sama. Sehingga itu akan berdampak terhadap hasil,” ujarnya.
Perpustakaan daerah, kata dia, juga tidak memiliki kewenangan untuk mengetahui jumlah pasti sampel dari Pamekasan yang telah diterima dan dinyatakan valid oleh Perpustakaan Nasional.
“Sebab,pengisian kuesioner dilakukan langsung oleh masyarakat,” tegas Kusairi.
Selain jumlah sampel, perubahan metodologi juga berpengaruh terhadap titik penentuan sampel. Dirinya menjelaskan, pada tahun-tahun sebelumnya, pengukuran TGM dilakukan oleh perpustakaan provinsi, dengan menggandeng Universitas Jember (UNEJ) sebagai konsultan. Mekanisme tersebut mengacu pada aturan Perpustakaan Nasional, dan dilakukan secara lebih terpusat.
“Dulu itu tersentralisasi. Jadi masing-masing kabupaten itu diberikan rumus statistiknya, menyesuaikan dengan jumlah sampling yang sudah disepakati,” jelasnya.
Menurut Kusairi, mekanisme tersebut membuat jumlah sampel lebih terukur. Pihaknya juga mengetahui jumlah sampel yang dibutuhkan serta proses penghitungan yang dilakukan tim khusus bersama konsultan.
Selain perubahan metode, terdapat perubahan istilah dalam pengukuran. Jika sebelumnya menggunakan istilah Tingkat Kegemaran Membaca (TGM), pengukuran terbaru menggunakan istilah Tingkat Kegemaran Membaca (TKM).
Meski nilai TKM Pamekasan 2025 tercatat 55,96, Kusairi mengingatkan bahwa, angka tersebut tidak dapat langsung dimaknai sebagai gambaran tunggal, mengenai kondisi kegemaran membaca masyarakat.
Untuk meningkatkan nilai TKM, pihaknya berupaya memperluas akses masyarakat, terhadap buku melalui layanan perpustakaan keliling, penambahan koleksi, serta kolaborasi dengan komunitas dan lembaga pendidikan.
