12 Santri Padepokan Kiyai Mudrikah Jajal Baca Kitab Kuning dan Tajwid

Sebanyak 12 santri mengikuti I’lan Baca Kitab Metode Al-Fatih dengan materi Safinatun Najah dan Fathul Qarib.

Santri IBS PKMKK saat mengikuti I’lan Baca Kitab Metode Al-Fatih dengan materi Safinatun Najah dan Fathul Qarib, Jumat (4/9/2026).

PAMEKASAN, MADURANET – MTs dan MA Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK) Pamekasan, menggelar I’lan Baca Kitab Metode Al-Fatih dengan materi Safinatun Najah dan Fathul Qarib, Jumat (4/9/2026), di halaman pesantren setempat.

Direktur IBS PKMKK, Achmad Muhlis, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menguji kemampuan membaca teks Arab, melainkan dituntut mampu menerjemahkan, memahami kaidah nahwiyah dan sharfiyah, serta memahami substansi fikih dalam kitab yang dibaca.

“Sebanyak 12 santri mengikuti I’lan, terdiri dari tiga santri dengan materi Fathul Qarib dan sembilan santri menggunakan Safinatun Najah,” ujar Muhlis.

Ia menjelaskan, para siswa dibimbing guru master dalam bidangnya, yakni, Moch. Cholid Wardi, bersama tiga ustad lainnya; Naufal Maulana,  Zainal Mustofa, dan Moh. Fauzi

Guru besar Sosiologi Islam tersebut juga memaparkan, selain baca kitab, kegiatan dilanjutkan dengan uji kompetensi ilmu tajwid Gharib Musykilat Marhalah Tsaniyah. Santri diuji memahami bacaan isymam, imalah, saktah, naql, tasyhil, dan rum, termasuk riwayat empat qurra’. Penguasaan Nadzam Hidayatus Shibyan dan Tuhfatul Athfal juga menjadi prasyarat.

Uji kompetensi tajwid tersebut dibimbing guru master Mohammad Holis. Muhlis mengatakan rangkaian kegiatan itu menunjukkan, pendidikan di madrasah tidak hanya mengejar kelancaran membaca Al-Qur’an dan kitab kuning, tetapi juga ketepatan metodologis dan pemahaman keilmuan.

“Santri tidak cukup hanya tahu, tetapi harus mampu membaca, tidak cukup membaca, tetapi harus memahami, dan tidak cukup memahami, tetapi harus mampu menjaga adab serta mengamalkan ilmunya,” kata Muhlis, Sabtu (5/9/2026).

Muhlis berpesan agar kemampuan akademik yang diperoleh para santri tetap bermuara pada akhlak. Menurut dia, tradisi pesantren perlu terus dihidupkan melalui pendidikan yang terukur agar melahirkan santri yang kuat literasinya, tajam nalarnya, benar bacaannya, dan luhur akhlaknya.

“Buat bangga orang tua, agar Allah juga bangga,” pesannya.

Exit mobile version