PAMEKASAN, MADURANET – Silaturahmi antara Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar, dengan para pengasuh IBS PKMKK di Pamekasan, Sabtu (4/4/2026) lalu, mengungkap keterhubungan kekerabatan yang melintasi jejaring pesantren di Madura hingga kawasan Tapal Kuda.
Direktur Utama IBS PKMKK, Achmad Muhlis, mengatakan pertemuan yang berlangsung selama sekitar tiga jam itu menjadi momentum “nyambung beleh”, atau tersambungnya jalur genealogis antar ulama dan pengasuh pesantren.
“Ternyata ada keterhubungan nasab antara beliau dengan para pengasuh melalui jalur ulama terdahulu,” ujar Muhlis, Senin (6/4/2026).
Pertemuan yang digelar di lobi gedung utama IBS PKMKK tersebut dihadiri sejumlah pengasuh, antara lain Mohammad Holis, Abd Rasyid Sufi, Moch Cholid Wardi, Taufiqur Rahman, Achmad Humaidi, dan K. Moh Fadil.
Muhlis menjelaskan, keterhubungan kekerabatan itu terlacak melalui tokoh-tokoh ulama seperti Bujuk Kiai Ismail Kembang Kuning, Bujuk Kiai Ajunan Sentol, Bujuk Kiai Ashar Bagandan, hingga Bujuk Bujuden Pamoroh Kiai Homsi atau Raden Sumowijoyo.
Keterkaitan tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa jaringan pesantren di Madura dan Tapal Kuda memiliki hubungan yang saling terhubung dan telah terbentuk sejak lama.
“Artinya, kekerabatan itu tidak hanya antar individu, tetapi juga menghubungkan banyak pesantren dalam satu jejaring besar,” kata Muhlis.
Ia menilai, peristiwa ini tidak sekadar mengungkap silsilah keluarga, tetapi juga menghidupkan kembali memori kolektif pesantren.
Dalam tradisi pesantren, lanjut dia, nasab memiliki makna penting karena menjadi bagian dari kesinambungan nilai, ilmu, dan perjuangan para ulama terdahulu.
“Ini memperkuat identitas kolektif pesantren sekaligus menegaskan bahwa pesantren berdiri di atas sejarah panjang,” ujarnya.
Muhlis menambahkan, keterhubungan genealogis tersebut juga memperkuat rasa kebersamaan antar-pesantren yang selama ini terjalin melalui hubungan keilmuan, dakwah, dan sosial.
Menurut Muhlis, makna “nyambung beleh” menjadi semakin relevan di tengah tantangan zaman yang cenderung individualistik.
Kesadaran akan keterhubungan sejarah dan kekerabatan, kata dia, menjadi modal sosial penting untuk menjaga solidaritas dan arah pengembangan pesantren ke depan.
“Pesantren tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga bagian dari jaringan peradaban yang saling terhubung,” kata Muhlis.
Ia menegaskan, pertemuan tersebut menjadi pengingat bahwa masa depan pesantren tidak dapat dilepaskan dari akar sejarah dan tradisinya.
“Dari situ, pesantren memperoleh kekuatan untuk terus berkembang tanpa kehilangan jati diri,” tutup dia.













