Santri Al Majidiyah Pamekasan Juara 1 Debat Bahasa Mandarin Nasional Bertema Dakwah Berbasis AI

Tiga santri asal Pamekasan kalahkan kampus besar di Jawa Timur

Tiga santri asal Ma’had Aly Al-Majidiyah, Pamekasan, Madura, dapat juara 1 lomba debat berbahasa mandarin tingkat nasional

PAMEKASAN, MADURANET — Tiga santri asal Ma’had Aly Al-Majidiyah Palduding, Pamekasan, Madura, membuktikan bahwa mereka bukan kalangan Kudet (kurang update). Mereka pulang dari Surabaya dengan menggandol gelar Juara 1 lomba debat berbahasa Mandarin tingkat nasional.

Ajang bertajuk Disway Mandarin Debate & Speech Competition 2025 itu digelar di Atrium Tunjungan Plaza 6, Surabaya, pada 3–5 Oktober lalu. Lomba ini diikuti peserta dari berbagai kampus ternama, termasuk UNESA dan sejumlah perguruan tinggi asal Kediri.

Ketiganya Ahmad Avin Amaniel Fuad (semester 3), Ainur Ridho (semester 7), dan Deby Pramana Putra (semester 5), tampil meyakinkan sejak babak penyisihan hingga final. Mereka berdebat dengan tajam dalam bahasa Mandarin, dengan tema besar “Dakwah di Era AI.”

“Kalau belajar Mandarin, kami tidak di kelas formal. Di pondok ada program ekstra kurikuler khusus, dipadukan dengan kajian kitab,” kata Avin saat ditemui usai lomba.

Setiap malam Rabu, para santri Ma’had Aly Al-Majidiyah memang punya jadwal belajar bersama memahami kitab dengan bahasa Mandarin secara bergantian.

“Itu bagian dari rutinitas pondok. Jadi selain ilmu agama, kami juga belajar bahasa asing sebagai bekal dakwah global,” ujarnya.

Dalam lomba tersebut, sistem yang digunakan adalah sistem poin. Mereka bahkan sempat bertemu teman sendiri dari kampus yang sama, salah satu momen paling dramatis di arena debat.

Lomba ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang digagas Harian Disway, media yang didirikan oleh Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN era Presiden SBY.

Kemenangan tim Ma’had Aly Al-Majidiyah ini menjadi bukti bahwa santri bukan hanya ahli kitab, tetapi juga mampu berkompetisi di level nasional dengan kemampuan bahasa internasional.

“Ini bukan soal menangnya, tapi soal bagaimana santri bisa berbicara tentang dakwah dan teknologi, dalam bahasa dunia,” ujar Avin menutup perbincangan.

Exit mobile version