PT. POMI Paiton Dorong IBS PKMKK Kembangkan Ekonomi Sirkular Berbasis Kearifan Lokal

Pertemuan antara IBS PKMKK dan PT. POMI Paiton Energy membahas penguatan pendidikan berkelanjutan melalui konsep ekoteologi, ekonomi sirkular, serta pemberdayaan masyarakat berbasis pesantren.

Achmad Muhlis menyerahkan sejumlah hasil penelitian lingkungan pada Rochman Hidayat, HCPC PT POMI/Paiton Energy didampingi salah satu pengasuh IBS PKMKK, Kamis (4/6/2026).

PAMEKASAN, MADURANET – Islamic Boarding School (IBS) Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) menerima kunjungan perwakilan PT Paiton Operation and Maintenance Indonesia (POMI)/Paiton Energy, Rochman Hidayat, Kamis (4/6/2026).

Pertemuan tersebut membahas penguatan konsep ekoteologi pesantren yang diintegrasikan dengan ekonomi sirkular dan kearifan lokal sebagai model pendidikan serta pemberdayaan masyarakat berkelanjutan.

Direktur Utama IBS PKMKK, Achmad Muhlis, mengatakan diskusi tersebut menjadi langkah penting dalam membangun paradigma pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada aspek akademik dan ekonomi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran spiritual terhadap lingkungan.

“Saya menyambut baik perbincangan luar biasa yang terjalin bersama perwakilan POMI Paiton mengenai penguatan gagasan ekoteologi pesantren dan kearifan lokal yang diintegrasikan dengan prinsip ekonomi sirkular,” ujar Muhlis.

Menurut dia, konsep tersebut sejalan dengan arah pengembangan IBS PKMKK yang selama ini menitikberatkan pada pendidikan berkelanjutan berbasis nilai-nilai Islam dan kesadaran ekologis.

Muhlis menjelaskan, pesantren memiliki posisi strategis sebagai pusat transformasi sosial yang mampu menghubungkan nilai keagamaan dengan praktik pelestarian lingkungan.

Melalui konsep tauhid ekologis, kata dia, pesantren dapat menjadi ruang pembelajaran sekaligus penggerak perubahan sosial dalam pengelolaan lingkungan dan ekonomi masyarakat.

“Nilai-nilai ekologis bisa dioperasionalkan dalam praktik ekonomi sirkular berbasis komunitas, mulai dari pengelolaan limbah, pengolahan sampah, pemberdayaan ekonomi hijau, hingga penguatan kearifan lokal sebagai etika produksi dan konsumsi,” katanya.

Ia menambahkan, IBS PKMKK juga tengah mengembangkan berbagai gagasan seperti wakaf lingkungan dan sedekah oksigen sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran spiritual-ekologis di kalangan santri.

Menurut Muhlis, sinergi dengan dunia industri tidak hanya dimaknai sebagai kerja sama program semata, melainkan sebagai langkah konseptual untuk menciptakan model pendidikan yang relevan dengan tantangan lingkungan global.

“Ini bukan sekadar rancangan kerja sama, tetapi upaya membangun model pendidikan dan pemberdayaan yang berkelanjutan, berakar pada nilai Islam, serta menjawab tantangan ekologi kontemporer,” ujarnya.

Sementara itu, Rochman Hidayat menyampaikan apresiasi terhadap konsep ekoteologi dan ekonomi sirkular yang dikembangkan IBS PKMKK.

Menurut dia, pendekatan tersebut memiliki relevansi kuat dengan isu keberlanjutan yang saat ini menjadi perhatian berbagai sektor, termasuk industri energi.

Rochman menilai ekonomi sirkular tidak hanya berbicara tentang pemanfaatan kembali sumber daya, tetapi juga harus mempertimbangkan dampak emisi yang dihasilkan dalam setiap proses produksi.

“Ekonomi sirkular juga harus memperhatikan bagaimana emisi yang dihasilkan dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” katanya.

Ia berharap dialog antara dunia pendidikan pesantren dan sektor industri dapat terus diperkuat guna melahirkan inovasi-inovasi yang mendukung pembangunan berkelanjutan.

Ia menegaskan, pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan perspektif pendidikan, lingkungan, dan industri dalam membangun model pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan sosial dan ekologis.

Exit mobile version