PAMEKASAN, MADURANET – Rencana pengembangan Lapangan Gas Paus Biru wilayah Selat Madura di tahun 2027 mendatang mendapat perhatian kalangan akademisi.
Proyek yang menjadi bagian dari penguatan sektor energi nasional itu dinilai harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, tidak hanya dalam bentuk investasi dan produksi energi, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) serta kesejahteraan daerah.
Rektor UIN Madura, Saiful Hadi, menilai eksplorasi sumber daya alam merupakan kebijakan strategis nasional yang penting untuk diwujudkan pemerintah dalam rangka mendukung kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.
Menurut dia, potensi energi yang dimiliki Madura merupakan aset besar yang dapat menjadi pendorong pembangunan apabila dikelola secara tepat dan melibatkan berbagai unsur masyarakat.
“Eksplorasi potensi sumber daya alam sebagai kebijakan strategis nasional bagi kepentingan jangka panjang untuk kesejahteraan masyarakat adalah hal penting yang perlu diwujudkan oleh pemerintah,” ujar Saiful, Sabtu (6/6/2026).
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan proyek energi tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis dan investasi, melainkan juga keterlibatan seluruh pemangku kepentingan di daerah.
Menurut Saiful, kampus, organisasi masyarakat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha harus menjadi bagian dari proses pembangunan agar manfaat proyek dapat dirasakan secara luas.
“Yang terpenting adalah keterlibatan semua stakeholder di daerah seperti kampus, organisasi masyarakat, dan unsur lainnya dalam rangka saling menjaga dan merawat keberlangsungan masa depan,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa pengelolaan sumber daya energi perlu mengacu pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan yang dalam perspektif ekoteologi mencakup tiga aspek utama, yakni pelestarian lingkungan, kehidupan sosial masyarakat yang seimbang, dan terbentuknya struktur ekonomi lokal yang mampu menyerap manfaat kesejahteraan secara lebih luas.
Pandangan tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap potensi energi Madura, termasuk pengembangan Lapangan Gas Paus Biru yang berada di Blok Sampang. Proyek tersebut diproyeksikan menjadi salah satu sumber pasokan gas untuk mendukung kebutuhan energi nasional.
Meski demikian, sejumlah pihak menilai kekayaan sumber daya alam tidak otomatis berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan masyarakat.
Dosen Universitas Wiraraja Sumenep, Mohammad Hidayaturrahman, menyoroti masih tingginya angka kemiskinan di sejumlah daerah penghasil migas di Madura.
Menurutnya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kekayaan sumber daya alam tidak selalu menghasilkan kesejahteraan apabila tidak diiringi kebijakan yang mampu mendistribusikan manfaat ekonomi kepada masyarakat.
“Potensi migas Madura sangat besar, tetapi angka kemiskinan di beberapa daerah penghasil migas masih relatif tinggi. Artinya, ada faktor lain yang memengaruhi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai pengembangan sektor energi harus dibarengi dengan kebijakan yang memastikan masyarakat lokal memperoleh manfaat langsung melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan kualitas pendidikan, dan penguatan ekonomi daerah.
Di sisi lain, Dosen Universitas Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Damanhuri, mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan kelestarian lingkungan.
Ia menilai berbagai persoalan lingkungan yang muncul di sejumlah daerah menjadi pelajaran penting agar pengembangan sektor energi tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem.
“Bumi akan tetap ada, kitalah yang tidak akan bertahan,” kata Damanhuri.
Menurut dia, pengawasan yang kuat, kepatuhan terhadap regulasi, serta kesadaran kolektif seluruh pihak menjadi syarat penting agar pengelolaan sumber daya energi tidak menimbulkan dampak negatif bagi generasi mendatang.
Perwakilan PT POMI/Paiton Energy, Rochman Hidayat, menilai Madura masih menghadapi tantangan besar dalam pembangunan SDM meskipun memiliki potensi energi yang melimpah.
Menurut dia, kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh keberadaan sumber daya alam, tetapi juga kemampuan masyarakat dalam meningkatkan kapasitas diri untuk memanfaatkan peluang yang tersedia.
“Orang Madura juga bisa bermimpi besar. Latar belakang pendidikan tidak selalu menjadi patokan utama dalam karier seseorang,” ujar Rochman.
Ia mendorong generasi muda Madura untuk meningkatkan literasi, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan komunikasi agar mampu bersaing di tengah perkembangan industri dan dunia kerja yang semakin kompetitif.













