PAMEKASAN, MADURANET – Keringat terus membasahi sekujur tubuh Sayuri. Matahari terik seakan tak terasa, karena ia ingin segera menuntaskan pekerjaannya. 1 hektar garam harus terangkut sebelum mentari kembali ke peraduannya. Bolak-bolak ia mengais garam ke dalam gerobaknya kemudian ia angkut ke dalam gudang yang letaknya tak jauh dari tambak garam.
Sayuri tak sendirian. Dua temannya, Arsimo dan Saman ikut bekerja mengangkut garam. Arsimo yang tak suka bajunya basah dengan keringat, memilih melepasnya. Cukup celana pendek dan topi combat melekat di tubuhnya.
Para kuli angkut garam itu, memulai mengais tumpukan garam yang sudah mengeras itu pukul 14.00 WIB. Cuaca di Dusun Candi Utara, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan. mencapai 35 derajat selsius. Sangat panas untuk ukuran orang yang tak biasa berjemur di terik mentari.
Namun, bagi mereka teriknya mentari tak terasa demi upah Rp 200.000 yang dibutuhkan untuk mencukupi kehidupan keluarganya. Kuli angkut garam, pilihan nyata untuk menyambung hidup mereka.
“Mau kerja apa kalau orang pesisir seperti kami. Garam adalah kehidupan kami, walau kami hanya kuli angkut,” ujar Sayuri, awal pekan bulan Oktober ini.

Kuli angkut garam, bagi Sayuri masih lebih baik jika dibandingkan kuli bangunan. Untuk menghabiskan garam seluas satu hektar, cukup butuh 4 jam dibantu kedua temannya. Uang Rp 200.000 sudah di kantong.
Sedangkan kuli bangunan, butuh 8 jam untuk mendapatkan ongkos sebesar Rp 140.000.
“Secara pendapatan, ongkos kuli angkut garam lebih besar dibanding kuli bangunan. Namun, kerja kuli angkut garam harus ngoyo dan melawan terik matahari. Sedangkan kuli bangunan, agak sedikit santai,” imbuh Sayuri.
Saat ini, harga garam sedang mahal. Per ton mencapai Rp 1.800.000 untuk Kw 1. Namun, itu tak berpengaruh kepada para kuli angkut. Yang untung besar, tetap pemilik tambak garam. Ongkos kuli, tidak ada perubahan karena harga garam mahal. Justru ketika harg garam murah, ongkos mereka ikut turun.
“Kalau garam murah, ongkos turun. Kalau garam mahal, tetap Rp 200.000 per hektar untuk tiga orang,” terang Sayuri.
Tahun ini, cuaca sedang tidak berpihak kepada petani garam dan petani tembakau. Orang Madura menyebutnya Nambere’ Raket atau kemarau basah. Produksi garam tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Pendapatan kuli angkut juga menurun.
“Tahun-tahun sebelumnya, bulan Mei sudah panen garam sampai November. Tahun ini tak menent, tiba-tiba malam hari hujan sehingga garam yang sudah waktunya panen, jadi cair lagi,” ujar Saman, kuli angkut garam lainnya.
Meskipun ongkos kuli angkut garam tergolong tinggi, namun belum sebanding dengan tingginya harga kebutuhan bahan pokok yang terus melambung. Para kuli angkut garam, tak cukup biaya untuk menabung untuk kebutuhan mereka di masa depan, terutama untuk kebutuhan pendidikan anak-anak mereka.
“Kebutuhan pokok sekarang serba mahal. Uang Rp 100.000, dibawa ke pasar hanya cukup dibelanjakan untuk kebutuhan sehari saja. Susah bagi kami menyisihkan uang untuk menabung sekadarnya,” ungkap Saman.