PAMEKASAN, MADURANET – Silaturahmi Kepala Kantor Wilayah Kakanwil Kementerian Agama Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar, ke IBS PKMKK di Pamekasan, Sabtu (4/4/2026).
Direktur Utama IBS PKMKK, Achmad Muhlis, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut menjadi momentum penguatan arah baru pengembangan pesantren berbasis lingkungan dan ekonomi berkelanjutan.
Hal itu disampaikan Muhlis usai pertemuan yang berlangsung di lobi gedung utama IBS PKMKK, Kembang Kuning, Sabtu (4/4/2026).
Menurut dia, pertemuan tersebut tidak sekadar silaturahmi, melainkan berkembang menjadi ruang dialog strategis tentang masa depan pesantren di tengah tantangan krisis ekologis dan perubahan ekonomi global.
“Pesantren hari ini tidak cukup hanya menjadi pusat transmisi ilmu agama, tetapi juga harus mengambil peran dalam menjawab persoalan lingkungan dan ekonomi masyarakat,” ujar Muhlis.
Dalam pertemuan tersebut, hadir sejumlah pengasuh IBS PKMKK, di antaranya Mohammad Holis, Abd Rasyid Sufi, Moch Cholid Wardi, Taufiqur Rahman Khafi, Achmad Humaidi, dan Moh Fadil.
Muhlis menjelaskan, salah satu gagasan utama yang dibahas adalah pengembangan pesantren melalui pendekatan eco-teologi dan ekonomi sirkular berbasis metode PAR-ABCD (Participatory Action Research–Asset Based Community Development).
Konsep eco-teologi, kata dia, menekankan kesadaran spiritual bahwa manusia memiliki tanggung jawab menjaga alam sebagai bagian dari nilai keagamaan.
“Pesantren memiliki karakter kuat dalam kesederhanaan dan kemandirian. Itu sejalan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan,” kata dia.
Sementara itu, ujarnya, ekonomi sirkular dinilai dapat menjadi model kemandirian pesantren melalui pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan, mulai dari produksi hingga daur ulang dalam satu ekosistem.
Muhlis menambahkan, pendekatan PAR-ABCD juga menjadi kunci karena menitikberatkan pada potensi internal komunitas pesantren, seperti santri, alumni, hingga jaringan sosial yang telah terbentuk.
Selain membahas konsep pengembangan, Muhlis juga memaparkan capaian IBS PKMKK, salah satunya produktivitas santri yang berhasil menerbitkan 197 buku ber-ISBN dalam kurun waktu empat tahun.
Menurut dia, capaian tersebut menunjukkan bahwa pesantren mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisionalnya.













