PAMEKASAN, MADURANET – Program Ramadhan Camp 2026 yang digelar Islamic Boarding School (IBS) Padepokan Kyai Mudrika Kembang Kuning (PKMKK), Pamekasan, menjadi ruang pembinaan karakter sekaligus penguatan ketahanan emosional bagi generasi santri di tengah tantangan era digital.
Direktur IBS PKMKK, Achmad Muhlis, mengatakan lembaga pendidikan Islam saat ini tidak hanya berfungsi mentransmisikan pengetahuan keagamaan secara normatif, tetapi juga membangun karakter, empati sosial, dan ketahanan emosional peserta didik.
Achmad Muhlis yang juga Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam di UIN Madura menjelaskan, perubahan sosial yang dipicu perkembangan teknologi digital dan budaya global membawa dampak besar terhadap kehidupan anak-anak dan remaja.
“Generasi muda hidup dalam realitas sosial yang kompleks, di mana arus informasi digital, tuntutan akademik, dan dinamika relasi sosial dapat memengaruhi perkembangan psikologis mereka,” kata Muhlis di Pamekasan, Kamis (12/3/2026).
Karena itu, menurut dia, pendekatan pendidikan berbasis Pedagogy of Compassion atau pedagogi kasih sayang menjadi penting dalam sistem pendidikan Islam kontemporer.
Pendekatan tersebut tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga membangun dimensi emosional dan moral peserta didik.
Program Ramadhan Camp 2026 IBS PKMKK diikuti oleh 197 santri usia dini, minimal kelas tiga sekolah dasar.

Muhlis menjelaskan, usia tersebut merupakan fase penting dalam pembentukan identitas diri, empati sosial, serta kesadaran spiritual.
Pada fase itu, anak-anak mulai memahami relasi sosial dan nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.
“Pendekatan pendidikan yang menekankan kasih sayang, penghargaan terhadap perbedaan, dan penguatan pengalaman spiritual sangat berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian mereka,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, IBS PKMKK menerapkan pendekatan integratif yang disebut Digital-Prophetic Compassion Model.
Model ini mengintegrasikan realitas modernitas digital dengan nilai-nilai kenabian seperti rahmah, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama.
Menurut Muhlis, integrasi tersebut menjadi upaya agar teknologi tidak sekadar menjadi alat teknis pembelajaran, tetapi juga instrumen pembinaan karakter santri.
Salah satu implementasinya adalah penerapan sistem Digital Governance melalui platform cashless PSP Mobile untuk mengelola aktivitas ekonomi santri selama Ramadhan Camp.
Sistem tersebut tidak hanya memudahkan transaksi, tetapi juga membangun budaya transparansi dan akuntabilitas di lingkungan pendidikan.
“Dengan sistem pembayaran digital yang terstruktur, peserta didik tidak perlu mengalami kecemasan terkait pengelolaan uang tunai, sehingga mereka dapat lebih fokus pada pembelajaran dan pembinaan spiritual,” kata Muhlis.
Selain memanfaatkan teknologi digital, program Ramadhan Camp juga menekankan penguatan nilai sosial dan spiritual.
Salah satunya melalui program Zakat Fitrah Mandiri, yang melibatkan santri dalam proses pengumpulan hingga distribusi zakat kepada pihak yang berhak.
Menurut Muhlis, pengalaman tersebut membantu peserta didik memahami bahwa ibadah dalam Islam memiliki dimensi sosial yang kuat.
“Zakat bukan hanya ritual individual, tetapi juga mekanisme sosial untuk menjaga keseimbangan ekonomi dan solidaritas masyarakat,” ujarnya.
Program ini juga memperkuat konsep intergenerational mentorship, yakni pendampingan santri usia dini oleh santri senior sebagai figur teladan dan pembimbing.
Di sisi lain, pendidikan moderasi beragama juga diberikan melalui pengenalan perbedaan jumlah rakaat dalam shalat tarawih serta berbagai pandangan ulama terkait hukum puasa dalam empat mazhab utama.
Pendekatan tersebut, kata Muhlis, bertujuan membangun sikap toleran dan inklusif di kalangan santri.
Sementara itu, Mentor Literasi IBS PKMKK, Heni Listiana, menyampaikan bahwa Ramadhan Camp tahun ini juga melahirkan karya literasi dari para santri.
Ia menyebut para peserta menunjukkan kemampuan berpikir kritis melalui berbagai tema tulisan, mulai dari keadilan hingga fiksi ilmiah bertema teknologi masa depan.
“Ramadhan di IBS PKMKK tidak hanya meninggalkan jejak spiritual, tetapi juga melahirkan harta karun intelektual melalui karya para penulis muda,” kata Heni.
Sebagai bentuk apresiasi, IBS PKMKK memberikan subsidi penerbitan sebesar Rp 250.000 kepada setiap santri agar karya mereka dapat diterbitkan menjadi buku.
Menurut Heni, langkah tersebut diharapkan menjadi awal lahirnya generasi cendekiawan Muslim yang mampu mewarnai peradaban melalui karya tulis.
“Semoga ini menjadi langkah awal lahirnya cendekiawan Muslim masa depan yang mampu menebarkan manfaat melalui tulisan,” ujarnya.













