Demam Piala Dunia 2026 Menjalar ke Pesisir Pamekasan Madura

Euforia FIFA World Cup 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko terasa hingga pelosok pesisir Madura. Puluhan warga Desa Branta Pesisir, Pamekasan, turun ke jalan melakukan konvoi sambil mengenakan atribut tim nasional Argentina, Senin (22/6/2026).

Potret semangat fans Argentina asal Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan di Pildun 2026, Senin, (22/6/2026).

PAMEKASAN, MADURANET – Gemuruh pesta sepak bola dunia tak hanya terasa di stadion-stadion megah Amerika Utara. Di sudut pesisir Madura, tepatnya di Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, semangat FIFA World Cup 2026 menjelma menjadi perayaan rakyat yang penuh warna.

Senin (22/6/2026) sore, lebih dari 50 warga yang didominasi kalangan pemuda dan anak-anak turun ke jalan melakukan konvoi keliling kampung. Dengan mengenakan jersey khas Argentina national football team, membawa bendera hingga berbagai atribut sepak bola, mereka mengitari desa sebelum akhirnya berkumpul di kawasan Dermaga Branta Pesisir yang menjadi pusat perayaan.

Bagi warga setempat, momentum empat tahunan itu bukan sekadar menonton pertandingan sepak bola dunia. Ada semangat kebersamaan yang sengaja dibangun agar euforia Piala Dunia menjadi ruang mempererat solidaritas sosial masyarakat.

Ka Zen, warga Branta Pesisir yang dikenal sebagai salah satu penggila sepak bola sekaligus inisiator “kampung Piala Dunia” di wilayah tersebut, mengatakan tradisi menyambut Piala Dunia di kampungnya sebenarnya sudah berlangsung cukup lama.

“Ini berawal dari arak-arakan kecil pada 2016 lalu. Sejak itu, setiap ada Piala Dunia, masyarakat selalu menyambut dengan cara seperti ini,” kata Ka Zen.

Menurut dia, seluruh atribut yang digunakan dalam perayaan tersebut merupakan hasil swadaya masyarakat. Mulai dari dekorasi kampung, bendera, atribut negara peserta, hingga berbagai ornamen sepak bola yang dipasang di rumah-rumah warga. Bahkan rumah miliknya kini dipenuhi berbagai foto pemain dunia dan pernak-pernik bertema Piala Dunia.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut sengaja dibangun untuk mengarahkan antusiasme anak muda ke aktivitas positif, sekaligus menjauhkan masyarakat dari praktik perjudian yang kerap muncul saat perhelatan sepak bola internasional berlangsung.

“Kami ingin anak-anak muda menikmati Piala Dunia tanpa judi. Ini cara kami menumbuhkan solidaritas, kebersamaan, dan membuat masyarakat punya kegiatan positif bersama,” ujarnya.

Tak berhenti pada konvoi, warga juga rutin menggelar nonton bareng setiap pertandingan berlangsung. Antusiasme itu bahkan terasa begitu kuat ketika Argentina bertanding, tim favorit mayoritas warga setempat.

“Kalau Argentina main, nelayan saja banyak yang tidak melaut demi nonton bareng,” kata Zen sambil tertawa.

Ka Zen menambahkan, konvoi kali ini menjadi yang kedua selama gelaran Piala Dunia 2026 berlangsung. Sebelumnya, saat pembukaan turnamen, warga juga menggelar parade serupa dengan melibatkan pendukung berbagai negara peserta.

“Kalau pembukaan kemarin semua fans dari berbagai negara ikut. Sekarang khusus Argentina,” ucapnya.

Di tengah keramaian itu, perhatian warga tertuju pada sosok Safik, seorang suporter yang rela mengecat hampir seluruh tubuhnya dengan warna biru-putih khas Argentina. Penampilannya membuat ia dijuluki maskot tak resmi dalam konvoi tersebut.

Safik mengaku sengaja melakukan hal itu sebagai bentuk dukungan sekaligus pesan bagi generasi muda agar tetap menjaga persatuan melalui momentum olahraga dunia.

“Ini saya lakukan untuk kemajuan generasi ke generasi. Agar mereka bisa kompak dan tetap menjaga persatuan. Mari getarkan batiniah kita, jangan sia-siakan momen empat tahun sekali ini,” kata Safik.

Semangat serupa juga datang dari kalangan perempuan. Sultonah dan Sandra, dua warga yang ikut mengenakan atribut Argentina, mengaku sengaja ikut turun ke jalan demi menjaga kekompakan masyarakat.

“Demi kekompakan, meski perempuan kami juga harus ikut memeriahkan. Apalagi kami memang suka Argentina,” kata mereka.

Keduanya juga mengapresiasi dukungan aparat keamanan setempat yang memberikan izin sehingga kegiatan berjalan lancar dan tertib.

Di sisi lain, kemeriahan konvoi ternyata membawa berkah tersendiri bagi pelaku usaha kecil di sekitar dermaga. Puluhan lapak UMKM terlihat dipadati warga yang berkumpul usai konvoi berlangsung.

Ahmadi, salah satu pedagang pentol di lokasi, mengaku dagangannya laris manis sejak sore hari. Ia berharap kegiatan semacam ini terus dilakukan karena memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat kecil.

“Alhamdulillah ramai sekali hari ini. Dagangan cepat habis. Semoga kegiatan seperti ini terus ada dan jadi berkah untuk semua,” tutup Ahmadi.

Kampung Piala Dunia yang Redup

Puluhan tahun, Desa Tentenan Timur, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, selalu menyandang status sebagai kampung piala dunia. Rumah-rumah warga dicat sesuai dengan warna negara favorit dan pemain andalannya, jalan kampung penuh dengan mural pemain figur dan bendera kontestan piala dunia, pernak-pernik piala dunia begitu ramai, lokasi nonton bareng selalu ramai meskipun dini hari.

Namun, situasi itu sudah tak tampak lagi. Gambar-gambar mural sudah pudar karena bekas lukisan lima tahun yang lalu. Sebagian gambar-gambar di tembok, sudah diganti dengan banner.

Pudarnya kemeriahan piala dunia di desa ini, disebabkan syndrom timnas Argentina yang sudah juara dunia 2021 lalu. Mayoritas, penduduk desa Tentenan Timur adalah pendukung Timnas Argentina. Saat Argentina juara, desa ini menggelar pesta meriah. Para pendukungnya konvoi keliling antar desa, dengan membentangkan bendera raksasa dan menyalakan kembang api beserta flare.

Moh. Lutfi, salah satu warga Tentenan Timur mengatakan, antusiasme masyarakat menurun karena jagoan mereka Timnas Argentina sudah juara untuk yang ketiga kalinya. Oleh sebab itu, para pendukungnya sudah merasa puas.

”Beberapa kali Argentina melaju ke final, namun tahun 2021 kemarin baru angkat piala setelah menang adu pinalti melawan Prancis,” ujar Lutfi.

Selain karena syndrome, jam pertandingan banyak yang bersamaan dengan jam kerja. Mayoritas masyarakat Tentenan Timur bekerja di pagi sampai siang sehingga mereka sibuk di tempat kerja masing-masing.

“Masyarakat lebih fokus ke urusan kerja sehingga nontonnya di tempat kerja masing-masing,” ungkap Lutfi.

Exit mobile version