PAMEKASAN, MADURANET – Telepon itu bisa datang kapan saja kepada Budi Cahyono. Tengah malam, dini hari, atau saat hujan deras mengguyur Pamekasan. Kadang dari rumah sakit. Kadang dari keluarga yang panik karena anggota keluarganya meninggal di perantauan.
Isi pesannya hampir selalu sama, meminta bantuan agar jenazah bisa dipulangkan atau keluarga yang sedang bingung kendaraan untuk berobat.
Budi tak banyak bertanya. Ia akan segera menyiapkan ambulans, menghubungi relawan, lalu berangkat.
“Yang penting orang sakit, bahkan jenazah bisa sampai rumah,” katanya, Sabtu, (23/5/2026).
Sudah 12 tahun rutinitas itu ia jalani. Di sela pekerjaannya sebagai aparatur sipil negara di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan, Budi justru lebih dikenal masyarakat sebagai orang yang selalu siap mengantar orang sakit dan mayat pulang.
Tak sedikit warga Pamekasan yang mengenal namanya karena kabar dari mulut ke mulut. Ketika ada keluarga sakit dan meninggal di Surabaya, Kalimantan, atau daerah lain, nama Budi sering menjadi nomor pertama yang dihubungi.
Ia bukan sopir ambulans biasa. Ia pendiri Forum Relawan Penanggulangan Bencana (FRPB) Pamekasan, komunitas relawan yang sejak 2014 bergerak membantu masyarakat dalam situasi darurat, termasuk mengurus pemulangan jenazah. Namun, bagi Budi, semua itu bukan pekerjaan. Ia menyebutnya panggilan batin.
Ia menceritakan, ini semua bermula dari pengalaman pribadi. Bertahun-tahun lalu, ibunya mengidap penyakit kronis. Saat itu, ia harus bolak-balik rumah sakit dan kesulitan mencari kendaraan untuk membawa sang ibu berobat.
”Kesulitan itu tertanam jelas di kepala saya,” ucapnya.
Ia mulai berpikir, penderitaan orang sakit dan keluarga yang kehilangan sering kali bukan hanya soal biaya rumah sakit, tetapi juga soal kendaraan dan pertolongan yang datang terlambat.
Dari situ, ia mulai aktif membantu warga yang membutuhkan ambulans. Lama-kelamaan, bantuan itu meluas hingga pengurusan jenazah.
“Kalau ada yang meninggal, atau butuh mengantarkan orang sakit di luar daerah dan keluarganya bingung, biasanya kami berangkat,” ujarnya.
Budi mengaku hanya meminta uang bensin dan konsumsi sopir. Namun, jika keluarga korban benar-benar tidak mampu, semuanya ditanggung relawan.
“Kalau memang tidak punya uang, ya gratis. Kami sudah biasa pakai uang pribadi,” katanya.
Untuk menjaga komunitas tetap hidup, sekitar 50 anggota FRPB terbiasa patungan. Mereka menyisihkan uang sendiri untuk memperbaiki ambulans, membeli bahan bakar, hingga biaya operasional lain.
Di halaman rumahnya, beberapa ambulans tua terparkir. Sebagian kendaraan itu merupakan hibah mobil bekas yang kemudian diperbaiki seadanya agar tetap bisa digunakan.
“Bukan mobil bekas lagi, tapi bekas mobil,” kata Budi sambil tertawa kecil.
Kini FRPB memiliki 11 kendaraan operasional. tujuh di antaranya ambulans yang setiap saat siap dipakai masyarakat.
”Ambulan kami juga ada yang stanby di rumah singgah pasien Surabaya, untuk jaga-jaga keadaan darurat,” ucapnya.
Tahun ini, kata Budi, Bupati Kabupaten Pamekasan Kholilurrahman memberikan bantuan satu ambulans dan satu mobil Avanza. Bantuan itu sedikit meringankan beban komunitas yang selama ini hidup dari swadaya. Meski demikian, Budi tetap terbiasa mengeluarkan uang pribadi untuk operasional relawan.
Ia tak menghitung sudah berapa jenazah yang pernah ia antar pulang. Ada yang meninggal karena sakit. Ada korban kecelakaan. Ada pula jenazah yang tak dikenali keluarganya hingga relawan turun membantu proses identifikasi.
Pengalaman-pengalaman itu membuatnya akrab dengan kematian. Namun, ia mengaku tak pernah benar-benar terbiasa.
“Setiap jenazah itu punya cerita,” katanya.
Di balik pekerjaannya, ada satu hal yang paling ia takutkan: keluarga yang tak mampu membawa pulang anggota keluarganya sendiri.
Karena itu, selama tenaganya masih ada, Budi ingin tetap berada di jalan-jalan panjang itu, mengantar seseorang kembali ke rumahnya untuk terakhir kali.













