PAMEKASAN, MADURANET — Bupati Pamekasan KH Kholilurrahman memberikan penghargaan kepada Ahmad Farhan, santri Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar, yang berhasil meraih Juara II Nasional dalam ajang Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadis (STQH) XXVII Tingkat Nasional Tahun 2025 di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
Penyerahan penghargaan itu berlangsung di Peringgitan Dalam Pendopo Ronggosukowati, Senin (20/10/2025).
Dalam kesempatan tersebut, Bupati menyerahkan uang pembinaan sebesar Rp12.500.000 kepada Farhan sebagai bentuk apresiasi atas prestasi yang membanggakan daerah.
“Kami bersyukur karena putra daerah asli Pamekasan telah meraih juara kedua dalam ajang nasional. Ini prestasi yang perlu kita apresiasi dan semoga menjadi penyemangat bagi para santri dan siswa lainnya,” ujar Bupati Kholilurrahman.
Bupati Kholilurrahman menegaskan bahwa pemerintah daerah terus berkomitmen mendukung para penghafal Al-Qur’an melalui berbagai program pembinaan dan penghargaan. Menurutnya, hafiz dan hafizah sering mendapatkan kemudahan dalam berbagai seleksi atau program beasiswa.
“Pemerintah memberikan perhatian khusus bagi para penghafal Al-Qur’an. Biasanya, dalam berbagai tes atau seleksi, mereka mendapat kemudahan sebagai bentuk penghargaan atas usaha dan kesungguhannya,” ucapnya.
Selain itu, Pemkab Pamekasan juga menggelar kegiatan Hifdzul Qur’an dan Qiro’atul Kitab dengan hadiah utama umrah bagi pemenang di Hari Jadi Pamekasan.
“Ini bentuk dukungan dan motivasi agar semakin banyak generasi muda yang mencintai Al-Qur’an dan belajar kitab kuning,” tambah Bupati.
Ahmad Farhan tampil di cabang Hafalan Al-Qur’an Golongan 30 Juz pada STQH Nasional di Kendari. Santri yang juga mahasiswa semester lima itu menuturkan bahwa prosesnya menghafal Al-Qur’an dimulai sejak awal mondok.
“Di pondok kami memang sudah terbiasa menghafal. Polanya satu hari satu halaman. Dari situ saya terus berproses hingga akhirnya bisa hafal 30 juz dalam waktu empat tahun,” ungkap Farhan.
Ia mengaku perjalanan menghafal tidak selalu mulus, banyak tantangan dan halangan.
“Kadang muncul rasa malas, kadang ingin berhenti. Tapi yang paling penting adalah semangat dan kesungguhan,” katanya.













