ADA kehilangan yang tidak dapat diukur hanya dengan air mata, sebab yang pergi bukan sekadar seorang manusia, melainkan sebuah mata air pengetahuan, ruang teduh bagi kegelisahan intelektual, dan cahaya yang selama ini diam-diam menerangi jalan berpikir banyak orang. Wafatnya Moh. Masyhur Abadi menghadirkan kesedihan yang sangat mendalam, bukan hanya bagi keluarga dan para muridnya, tetapi juga bagi dunia pendidikan dan tradisi keilmuan yang selama ini beliau rawat dengan penuh kesungguhan, kesabaran, dan keikhlasan. Di tengah zaman yang semakin gaduh oleh informasi instan dan dangkalnya refleksi, beliau hadir sebagai sosok alim yang tetap setia menjaga kedalaman berpikir dan kemurnian tradisi ilmu.
Bagi saya pribadi, Achmad Muhlis, beliau bukan hanya seorang guru dalam pengertian akademik formal, melainkan sosok yang ikut membentuk arah perjalanan intelektual dan cara saya memandang pendidikan, ilmu pengetahuan, bahkan peradaban. Ada banyak orang yang mengajar dengan kata-kata, tetapi hanya sedikit yang mendidik melalui keluasan wawasan, ketulusan sikap, dan kekuatan keteladanan hidupnya. Moh. Masyhur Abadi termasuk sosok langka itu. Dalam setiap diskusi dengannya, saya selalu merasakan bahwa ilmu bukan sekadar kumpulan teori, tetapi jalan panjang untuk mendekatkan manusia pada makna kehidupan dan pada Tuhan.
Kedalaman dan keluasan ilmu beliau tampak dalam begitu banyak karya yang diterjemahkan dari bahasa Arab maupun bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Ratusan buku tentang ketuhanan, filsafat, spiritualitas, sejarah pemikiran Islam, dan peradaban diterjemahkan dengan penuh ketelitian dan kedalaman makna. Dalam perspektif sosiologi pengetahuan, pekerjaan menerjemahkan sesungguhnya merupakan bentuk besar dari transformasi sosial dan demokratisasi ilmu. Seorang penerjemah ilmu tidak hanya memindahkan bahasa, tetapi juga memindahkan kesadaran, cara berpikir, dan horizon peradaban.
Moh. Masyhur Abadi memahami bahwa bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki sumber daya alam, tetapi bangsa yang memiliki tradisi intelektual yang hidup. Karena itu, beliau memilih jalan sunyi yang tidak selalu terlihat gemerlap di ruang publik: membaca tanpa lelah, menerjemahkan tanpa pamrih, dan menyebarkan ilmu tanpa mengejar popularitas. Di tengah budaya akademik modern yang kadang terlalu sibuk mengejar simbol formalitas dan pengakuan administratif, beliau justru memperlihatkan wajah intelektual sejati yang hidup dalam kesederhanaan tetapi kaya akan gagasan.
Sosok seperti beliau memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjaga kesinambungan tradisi ilmu. Peradaban besar selalu lahir dari manusia-manusia yang menjadikan ilmu sebagai pengabdian hidup. Dalam sejarah Islam, kejayaan intelektual tidak hanya dibangun oleh para penguasa, tetapi oleh ulama, penerjemah, pemikir, dan guru-guru yang menjaga ruh pengetahuan dari generasi ke generasi. Moh. Masyhur Abadi adalah salah satu penjaga ruh itu.
Saya masih mengingat dengan sangat jelas ketika dalam perjalanan penulisan disertasi, saya pernah mengalami kebuntuan intelektual. Ada fase ketika arah penelitian terasa kabur, argumentasi kehilangan struktur, dan saya seperti kehilangan keyakinan terhadap jalan akademik yang sedang ditempuh. Dalam keadaan itulah saya bertemu dengan beliau. Kami berdiskusi panjang lebar tentang ilmu, metodologi, kehidupan, dan makna pendidikan. Diskusi tersebut tidak hanya memberi jawaban akademik, tetapi juga membangkitkan kembali keberanian berpikir yang hampir padam.
Seorang guru sejati memang bukan sekadar pemberi informasi, tetapi penyembuh kegelisahan intelektual muridnya. Moh. Masyhur Abadi memiliki kemampuan langka untuk membuat seseorang kembali percaya pada proses berpikirnya sendiri. Beliau tidak memaksa, tidak menggurui secara otoriter, tetapi membimbing dengan keluasan wawasan dan kedalaman refleksi. Setelah pertemuan dan diskusi itu, perlahan saya menemukan kembali arah penulisan disertasi hingga akhirnya dapat diselesaikan dengan baik.
Beliau juga menjadi salah satu inspirasi penting dalam pengembangan IBS PKMKK, terutama dalam gagasan integrasi antara sains, teknologi, dan agama. Banyak sekali masukan-masukan beliau yang membentuk cara pandang saya tentang bagaimana pendidikan Islam seharusnya bergerak di tengah tantangan zaman modern. Beliau sering memberikan buku untuk saya baca, lalu mendiskusikannya dengan sangat mendalam. Dari diskusi-diskusi panjang itulah perlahan lahir kesadaran bahwa pendidikan Islam tidak boleh terjebak pada dikotomi ilmu agama dan ilmu umum, tetapi harus mampu membangun sintesis baru yang menyatukan ketuhanan, sains, teknologi, dan kemanusiaan.
Dari proses intelektual dan dialog panjang bersama beliau, akhirnya lahirlah buku yang saya tulis berjudul “Kurikulum Al-Muwahhid, Menyemai Tuhan, Merajut Peradaban.” Buku tersebut sesungguhnya bukan hanya hasil perenungan pribadi, tetapi jejak panjang percakapan dan inspirasi yang saya dapatkan dari beliau. Banyak gagasan tentang pendidikan berbasis ketuhanan, integrasi ilmu, dan pembangunan peradaban modern yang tumbuh dari diskusi-diskusi lama bersama Moh. Masyhur Abadi.
Inspirasi intelektual seperti ini sangat penting dalam membentuk kreativitas dan keberanian berpikir seseorang. Banyak karya besar lahir bukan semata karena kecerdasan individual, tetapi karena perjumpaan dengan figur guru yang mampu menyalakan kesadaran dan memperluas cakrawala berpikir muridnya. Moh. Masyhur Abadi adalah salah satu sosok yang menyalakan kesadaran itu dalam diri banyak orang.
Yang membuat kehilangan ini terasa semakin mendalam adalah karena beliau sebenarnya masih memiliki keinginan yang sangat kuat untuk mengajar dan berbagi ilmu kepada santri-santri IBS PKMKK setelah memasuki masa purna tugas. Beliau ingin memberikan materi tentang sejarah peradaban Islam, sebuah bidang yang sangat beliau kuasai dan cintai. Beliau sering berbicara tentang pentingnya generasi muda memahami sejarah peradaban Islam bukan hanya sebagai romantisme masa lalu, tetapi sebagai energi kebangkitan masa depan. Namun Allah SWT ternyata memiliki kehendak lain. Rencana mulia itu belum sempat terwujud secara langsung, meskipun jejak pemikirannya telah lebih dahulu hidup dalam banyak gagasan, buku, dan inspirasi yang beliau wariskan.
Keluarga besar IBS PKMKK benar-benar merasa kehilangan sosok pemikir, penggagas tradisi keilmuan, sekaligus penjaga budaya intelektual yang selama ini menjadi sumber inspirasi bersama. Kehilangan beliau bukan hanya kehilangan individu, tetapi kehilangan energi moral dan intelektual yang selama ini menjaga semangat membaca, berdiskusi, dan berpikir mendalam di tengah kehidupan pendidikan yang semakin pragmatis.
Namun sesungguhnya, orang-orang yang hidup bersama ilmu tidak pernah benar-benar wafat. Tubuhnya mungkin kembali kepada tanah, tetapi gagasannya akan tetap hidup dalam pikiran murid-muridnya, dalam buku-buku yang diwariskannya, dan dalam kesadaran generasi yang terus tumbuh. Dalam tradisi Islam, ilmu yang bermanfaat adalah amal jariyah yang tidak pernah terputus. Dan mungkin, itulah bentuk keabadian paling mulia yang dapat dimiliki manusia: tetap hidup melalui ilmu, inspirasi, dan cahaya pemikiran yang diwariskannya kepada dunia.
Selamat jalan, Guru. Engkau telah meninggalkan dunia fisik ini, tetapi cahaya intelektualmu akan terus hidup dalam ruang-ruang belajar, dalam lembar-lembar buku, dalam cita-cita pendidikan yang memadukan Tuhan dan peradaban, serta dalam perjalanan murid-muridmu yang terus melanjutkan jejak perjuangan ilmumu. Semoga seluruh ilmu, gagasan, terjemahan, dan keteladanan yang engkau wariskan menjadi amal jariyah yang terus mengalir tanpa henti di sisi Allah SWT.
Oleh: Prof. Dr KH. Achmad Muhlis, M.A., (Ketua Senat UIN Madura) sebagai Guru Besar bidang Sosiologi Pendidikan Islam UIN Madura.













