PAMEKASAN, MADURANET – Bupati Pamekasan Kholilurrahman meminta warga, tidak menunda membawa pasien kritis ke rumah sakit, hanya karena persoalan biaya. Ia menegaskan pemerintah daerah akan menjamin penanganan medis, bagi warga yang membutuhkan.
Pernyataan itu disampaikan, menyusul kisah pasangan Ida Saidah (35) dan Mustofa (43), nelayan asal Desa Bandaran, Kecamatan Tlanakan, yang sempat kebingungan mencari uang tunai Rp 550.000 saat anak mereka, Mohammad Gazal Al Farizki (3), jatuh sakit.
“Jangan mikir pinjaman uang dulu, langsung berangkat ke rumah sakit,” kata Kholilurrahman dihadapan ribuan masyarakat dalam penutupan MTQ XXXII 2026, Kamis (24/9/2026).
Ia mengaku telah menginstruksikan seluruh rumah sakit daerah dan puskesmas, agar pasien dalam kondisi kritis ditangani lebih dulu, tanpa menanyakan status BPJS maupun pasien umum.
Bupati bahkan meminta masyarakat, mendokumentasikan identitas petugas, apabila masih ada tenaga kesehatan yang mendahulukan pertanyaan administrasi kepada pasien gawat darurat. Menurut dia, tindakan tersebut akan ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah.
“Saya merasa berdosa kalau ada warga Pamekasan, tidak mendapatkan pelayanan. Kalau nanti terpaksa tidak bisa membayar, pemerintah yang akan membayar. Kalau pemerintah tidak bisa, saya yang bertanggung jawab mengganti,” ujarnya.
Gazal sebelumnya, sempat di rawat di Puskesmas Bandaran, melalui layanan umum dengan tanggungan biaya Rp 550.000, dan 300.000 untuk kamar.
Setelah sempat dibawa pulang dan kondisi kembali memburuk. Gazal kembali dirawat melalui program Biaya Kesehatan Masyarakat Miskin (Biakes Maskin), di RSUD Mohammad Noer Pamekasan. Namun sehari dirawat, kondisinya semakin memburuk, hingga harus dirawat ruang ICU.
Selain layanan kesehatan, Kholilurrahman juga meminta camat melaporkan tiga kelompok warga, yang harus diprioritaskan pemerintah, yakni keluarga miskin yang kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, warga dengan rumah tidak layak huni yang membahayakan keselamatan, serta masyarakat yang membutuhkan perlindungan sosial.
“Pelayanan publik harus tumbuh dari kesadaran melayani, bukan karena tekanan atau paksaan,” pungkasnya.













