PAMEKASAN, MADURANET — Universitas Islam Negeri (UIN) Madura resmi membuka Program Studi (Prodi) Psikologi Islam setelah terbitnya izin KMA Nomor 1392 Tahun 2025. Pendirian prodi ini, menurut pihak kampus, berangkat dari kebutuhan masyarakat Madura yang semakin besar terhadap studi psikologi berbasis nilai keislaman, sekaligus bagian dari visi integrasi keilmuan kampus, pasca beralih status menjadi universitas.
Rektor UIN Madura, Saiful Hadi, menjelaskan bahwa urgensi pembukaan prodi tersebut bukan semata mengejar tren yang ramai membuka Psikologi Islam, melainkan lahir dari kebutuhan riil.
“Program Studi Psikologi Islam lebih dibutuhkan, terutama di Madura. Materi kuliahnya mengombinasikan psikologi umum dengan nilai-nilai keislaman sehingga peluang kerja lulusannya masih terbuka,” ujarnya.
Pihak kampus menyatakan bahwa analisis kebutuhan, kajian kesiapan institusi, hingga borang kelayakan prodi sudah disusun sebelum pengajuan izin. Rektor menegaskan bahwa empat poin kritis, yaitu urgensi, kesiapan akademik, beban institusi, dan diferensiasi kurikulum “semuanya sudah ada di borang,” ujarnya.
Saiful mengelak jika prodi baru ini hanya kemasan psikologi umum namun dilabeli agama Islam.
“Sesuai visi integrasi keilmuan, Prodi Psikologi Islam hadir untuk memadukan psikologi umum dengan kajian psikologi yang berkembang dalam khazanah klasik hingga modern dalam kajian Islam,” jelasnya.
Kampus memberikan contoh bagaimana integrasi itu berjalan. Salah satu dosen, ujar Rektor, menulis disertasi yang menggunakan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan tafsirnya. Pendekatan ini disebut sebagai model riset yang ingin diperkuat di dalam prodi baru.
Menjawab pertanyaan tentang kesiapan tenaga pengajar, Rektor mengklaim bahwa standar minimal PD Dikti telah terpenuhi.
“SDM kami secara minimal sudah sesuai persyaratan. Ke depan, secara terencana dan terukur harus terus diprioritaskan penambahan SDM dengan kompetensi sesuai prodi,” katanya.
Meski kampus memiliki beberapa dosen dengan latar psikologi dan psikologi Islam, belum disebut adanya psikolog klinis profesional di struktur awal prodi. Namun kampus menyatakan penambahan SDM akan dilakukan bertahap.
Berkaitan dengan kelengkapan sarana prasarana, yang mencakup laboratorium psikologi, ruang observasi, dan fasilitas praktikum, pihaknya mengakui belum sepenuhnya tersedia. Rektor menyebut pemenuhannya akan menjadi prioritas.
“Kelengkapan infrastruktur akan dilaksanakan secara bertahap dan terukur,” ujarnya singkat.
Dirinya menilai Prodi Psikologi Islam memiliki relevansi kuat dengan persoalan sosial di Madura. Rektor menyebut beberapa isu yang tentu akan menjadi salah satu kajian prodi.
”Perihal kesehatan mental santri, perkawinan anak atau dibawah umur, budaya kekerasan simbolik, dinamika temperamen masyarakat, serta persoalan psikososial berbasis kultur komunitas juga akan menjadi titik pembahasan kami, guna menjawab masalah psikososial Madura, ” jelasnya.
Menurutnya, kehadiran prodi dapat menghasilkan riset-riset yang menjadi dasar ilmiah untuk memahami dan merespon masalah-masalah tersebut.
“Hal-hal itu bisa menjadi fakta ilmiah yang dijadikan kajian,” ujarnya.
Bagi kampus, integrasi nilai keislaman menjadi fondasi penting dan membedakan lulusannya. “Integrasi keilmuan adalah ruh pengembangan kampus,” tegas Rektor.
Kampus berharap, kata Rektor, lulusan prodi ini mampu mengisi kebutuhan tenaga psikologi di Madura yang masih sangat minim, sekaligus memiliki sensitivitas budaya dan agama yang dibutuhkan masyarakat.
Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Fawaid, sebagai Fakultas yang menaungi Prodi tersebut, menambahkan bahwa pembukaan prodi ini juga didorong oleh kebutuhan masyarakat yang menginginkan pilihan studi psikologi berbasis Islam.
“Alasan program ini penting, salah satunya untuk memberi opsi prodi bagi masyarakat Madura, terutama bagi yang ingin menggeluti studi Islam,” katanya.
Menurutnya, prodi ini sekaligus menjadi ruang untuk mengkaji perilaku dan psikologi masyarakat Madura secara ilmiah.
“Kita tahu bersama image masyarakat Madura yang terkenal temperamen dan emosional. Hadirnya prodi ini bisa menjawab apakah benar demikian, dan menarik bila dikaji melalui psikologi Islam,” tutupnya.












