PAMEKASAN,MADURANET – Mentari pagi belum sempat membuat embun-embun menguap. Ersam, pria paruh baya itu baru datang mencari rumput untuk pakan ternak. Pakan itu juga masih meneteskan embun.
Di rumah sederhana di Dusun Tengah Dua, Desa Tegangser Laok, Kecamatan Waru ia duduk sejenak, menghela napas, lalu bercerita tentang hidup yang ia jalani apa adanya, tanpa keluhan berlebihan, tanpa pula menyalahkan siapa pun.
Ersam adalah petani. Pekerjaan yang, menurut pengakuannya, tak pernah memberi kepastian.
“Kalau ada yang minta tolong mencangkul atau bantu kerja lain, baru dapat uang. Pokoknya serabutan yang penting dapat kerja,” katanya.
Jika tidak kerjaan di luar, ia kembali ke ladang sendiri. Penghasilan datang dan pergi, mengikuti musim dan kebutuhan orang lain.
Sepetak sawah berisi 4.000 batang tembakau yang ia garap sehari-hari. Saat panen tembakau kemarin, ia hanya memperoleh Rp 1 juta setelah dipotong biaya perawatan. Uang itu, tak cukup menenangkan fikirannya untuk menjalani hidup sampai musim tembakau berikutnya.
”Musim tembakau kemarin Alhamdulillah dapat Uang satu juta, tapi sekarang sudah habis uang itu,” sahutnya, Jumat (2/1/2026).
Sebagai kepala keluarga, Ersam menanggung istri dan dua anak. Anak sulungnya lulus SMA pada 2025. Kuliah bukan pilihan anaknya, bukan karena tak mau, melainkan karena tak mampu. Kini anak itu membantu bertani dan ikut ngarit, menyambung rutinitas ayahnya.
Anak kedua baru menginjak usia sekolah, masih membawa harapan yang pelan-pelan tumbuh.
Di tengah keterbatasan itu, Ersam tercatat masuk Desil 6–10 dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), kelompok yang secara statistik dianggap tak miskin juga mapan.
“Petugas PKH sepertinya tidak pernah ke sini,” ujarnya.
Ia ingat pernah ada orang bertanya-tanya, namun lebih mirip survei politik ketimbang pendataan bantuan sosial.
Soal jaminan kesehatan, Ersam mengaku BPJS miliknya sudah tidak aktif. Ia tak memperpanjang.
“Saya berharap saja tidak sakit karena untuk bayar BPJS secara mandiri sudah tak cukup,” katanya lirih.
Baginya, sehat lebih utama daripada kartu yang tak selalu bisa diandalkan. Tinggal di wilayah perbukitan, akses informasi pun terbatas. Pengetahuan datang dari cerita ke cerita, bukan dari layar gawai yang selalu menyala.
Namun hidupnya tak selalu berhenti di desa. Untuk menyambung hidup, tahun 2007 hingga 2013, Ersam mencoba keberuntungan ke negeri jiran Malaysia. Ia bekerja sebagai tenaga kerja ilegal, adu nasib di negeri orang demi mendongkrak ekonomi keluarga. Dari sanalah rumah yang kini ia tempati bisa berdiri.
“Alhamdulillah bisa bangun rumah setelah jadi TKI meskipun ilegal,” katanya.
Karena berstatus ilegal, Ersam dipulangkan secara paksa oleh pemerintah Malaysia. Ia tak punya pilihan lain kecuali kembali ke sawah warisan orang tuanya.
Meski demikian, Ersam tak pernah mengutuki keadaan. Ia menerima hidup sebagaimana datangnya. Bertani, ngarit, membantu tetangga jika diminta. Dalam diam, ia menyimpan keteguhan,
“Bekerja hari ini, berharap esok lebih baik. Setiap makhluk tuhan menemukan jalan rejekinya masing-masing,” ucapnya sambil tersenyum.













