IPM Pamekasan 2025 Naik Jadi 71,64, Tertinggi di Madura

BPS sebut daya beli jadi faktor utama pendorong kenaikan

Ruang Pelayanan BPS Pamekasan, Senin (26/1/2026).

PAMEKASAN, MADURANET – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pamekasan mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Pamekasan tahun 2025 naik menjadi 71,64 atau meningkat 0,79 poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Dengan capaian tersebut, IPM Pamekasan menjadi yang tertinggi di kawasan Madura, mengungguli Kabupaten Sumenep (70,54), Bangkalan (68,15), dan Sampang (67,23).

Kepala BPS Kabupaten Pamekasan, Parsad Barkah Pamungkas menjelaskan, kenaikan IPM tersebut didorong oleh peningkatan seluruh indikator penyusunnya, terutama dari sisi ekonomi.

“Faktor pendorong utama kenaikan IPM Pamekasan tahun 2025 adalah indikator pengeluaran riil per kapita yang tumbuh 4,03 persen dibandingkan tahun 2024,” ujarnya, Senin (26/1/2026).

Pihaknya memaparkan, soal pengeluaran riil per kapita per tahun yang disesuaikan atau purchasing power parity (PPP), tercatat naik dari Rp 9,8 juta pada 2024 menjadi Rp 10,2 juta pada 2025.

BPS menilai, pertumbuhan PPP tersebut menjadi komponen yang paling mudah diintervensi untuk mempercepat kenaikan IPM.

“Dengan meningkatkan daya beli masyarakat, percepatan peningkatan IPM bisa lebih cepat dicapai,” sahut Parsad.

Meski demikian, secara peringkat provinsi, IPM Pamekasan masih berada di posisi ke-33 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur dan peningkatannya tercatat lambat.

BPS menyebut, lambatnya kenaikan peringkat bukan hanya dialami Pamekasan, melainkan juga daerah lain, karena selisih angka IPM antar daerah sangat kecil.

“Perbedaan satu peringkat, selisih angka IPMnya tidak sampai 1 poin,” tegasnya.

Karena itu, BPS menilai, keberhasilan pembangunan manusia seharusnya tidak hanya dilihat dari peringkat, tetapi juga dari percepatan pertumbuhan IPM tiap tahunnya.

Jika dilihat dari daya beli, BPS mencatat PPP Pamekasan pada 2025 setara dengan pengeluaran riil Rp 10,2 juta per kapita per tahun atau sekitar Rp 28.400 per orang per hari.

“Jika pengeluaran Rp 28.400 per orang per hari masih dianggap kurang untuk memenuhi kebutuhan dasar di Pamekasan, maka rata-rata daya beli masyarakat memang masih tergolong lemah,” jelasnya.

Kendati demikian, BPS menilai progres PPP Pamekasan dalam lima tahun terakhir cukup menggembirakan karena tumbuh sekitar 15,92 persen sejak 2021.

Ia juga menegaskan bahwa kenaikan IPM mencerminkan capaian seluruh lapisan masyarakat.

“IPM dihitung dari data Susenas yang menggunakan pendekatan rumah tangga secara acak, sehingga seluruh kelompok ekonomi terwakili,” tulis BPS.

Dengan demikian, menurut Parsad, kenaikan IPM Pamekasan berarti sudah dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, baik kelompok bawah, menengah, maupun atas.

BPS menambahkan, risiko stagnasi IPM hanya akan terjadi jika daya beli masyarakat tidak terus dijaga.

“Jika sektor ekonomi tidak membaik, pertumbuhan IPM akan sangat lambat. Risikonya ada pada evaluasi pembangunan manusia yang dianggap kurang berhasil,” tulis BPS.

Sedangkan dalam variabel kesehatan dan pendidikan, pihaknya juga mendapatkan catatan yang memuaskan.

”Dalam indikator usia harapan hidup (UHH) saat lahir naik menjadi 73,85 tahun. Dari sisi pendidikan, harapan lama sekolah (HLS) meningkat menjadi 13,83 tahun, sementara rata-rata lama sekolah (RLS) naik menjadi 7,29 tahun,” pungkasnya.

Exit mobile version