• Terkini
  • Trending
  • Semua
Setengah Merdeka

Setengah Merdeka

3 minggu lalu

AJP Salurkan Air Bersih, 11 Kecamatan di Pamekasan Jadi Sasaran

4 jam lalu

ASKAB PSAI Pamekasan Resmi Dilantik, Buka Ruang Prestasi Atlet Disabilitas

1 hari lalu

Bupati Pamekasan Apresiasi Gotong Royong Perbaikan Jalan Desa Mangar Sepanjang 3,5 Kilometer

1 hari lalu

12 Santri Padepokan Kiyai Mudrikah Jajal Baca Kitab Kuning dan Tajwid

1 hari lalu

Antrean BBM di Sejumlah SPBU Pamekasan Karena Konsumen Panik

2 hari lalu

Pertamina Ungkap Penyebab Kelangkaan BBM karena Ulah Konsumen Sendiri

2 hari lalu

Warga Blumbungan Keluhkan Bau Menyengat dari Gudang Tembakau

2 hari lalu

Kehabisan Kuota Pertalite dan Solar di Pamekasan Picu Antrean di SPBU

3 hari lalu

PMII Soroti 17 Anggota DPRD Pamekasan Bolos dalam Paripurna

3 hari lalu

Serapan Tembakau di Pamekasan Sudah Mencapai 15.000 Ton

3 hari lalu

Kematian Ibu dan Bayi di Pamekasan Terus Meningkat

3 hari lalu

Kelangkaan BBM Bikin Pelayanan Publik Terganggu Pendapatan Warga Anjlok

4 hari lalu
  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Periklanan
  • Login
  • Register
Minggu, September 6, 2026
Maduranet.com
  • Home
  • Politik
  • Bola
  • Khazanah
  • Gaya
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
Maduranet.com
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Bola
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Budaya
  • Agama
  • Olahraga
  • Daras
  • Gaya
  • Plesir
  • Kulinari
  • Editorial
Home Pilihan

Setengah Merdeka

Realitas politik Indonesia hari ini, masih didominasi oleh konsolidasi oligarki dan elit kekuasaan.

oleh Taufiqur Rahman
17 Agustus 2026
in Pilihan
11 0
0
Setengah Merdeka
0
SHARES
110
VIEWS

MADURANET – Suasana menjelang peringatan hari kemerdekaan di sebuah sudut Kota Bogor, mendadak diwarnai ketegangan kecil. Seorang tukang cukur local, secara terang-terangan menolak memasang bendera Merah Putih di depan kiosnya. Ketika ditanya oleh warga dan aparat setempat, ia memberikan jawaban singkat namun menohok: Indonesia dianggapnya belum benar-benar merdeka.

Bagi tukang cukur tersebut, himpitan hidup sehari-hari dan impian kesejahteraan yang tak kunjung datang, membuat kemerdekaan terasa sekadar ritual tahunan yang berjarak dari realitas hidupnya. Kemerdekaan secara substansial, merdeka secara psikologis, secara ekonomi dan sosial, belum sepenuhnya hadir.

Ironi senada, meledak dalam bentang geografis yang berbeda. Peringatan Hari Damai Aceh, diwarnai dengan kerusuhan serta bentrokan hebat, antara massa dan aparat keamanan. Insiden tersebut, memuncak ketika bendera Merah Putih diturunkan oleh aksi massa, dan digantikan dengan bendera Bulan Bintang. Lambang burung garuda, diinjak-injak oleh massa.

Peristiwa ini, menandakan bahwa luka lama, ketidakpuasan struktural, serta narasi keadilan yang belum tuntas masih bersemayam di akar rumput rakyat Aceh.

Kedua fenomena ini, menjadi cermin retak bagi kita, untuk menguji kembali: apa arti kemerdekaan yang sesungguhnya?

Makna Kemerdekaan: Politik, Ekonomi, dan Sosial

Kemerdekaan sejati, jelas tidak berhenti pada peristiwa pengusiran penjajah kolonial, atau seremonial pembacaan teks Proklamasi. Kemerdekaan adalah bangunan utuh yang mencakup tiga pilar utama; meliputi kemerdekaan politik dimana kebebasan bersuara, menyampaikan pendapat, dan berpartisipasi dalam menentukan arah bangsa, tanpa intimidasi maupun manipulasi hukum.

Kebebasan menyampaikan suara (termasuk tulisan), akhir-akhir ini mendapat tekanan yang cukup kuat. Bahkan kritik dianggap sebagai penghianatan terhadap bangsa. Istilah penghianatan ini, digambarkan sebagai Londo Ireng. Tekanan ini menandakan bahwa kritik terhadap kekuasaan dinilai sebagai ancaman dan musuh yang harus dimusnahkan. Kritik dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, merupakan pilar terakhir dalam tegaknya demokrasi, di tengah persekongkolan pilar-pilar demokrasi yang lain.

Kemerdekaan Ekonomi; kedaulatan atas sumber daya alam serta jaminan akses penghidupan yang layak bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali. Rakyat Indonesia merasakan betul bagaiamana sulitnya bertahan hidup di tengah resesi ekonomi nasional. Angka kemiskinan secara kuantitatif yang dipaparkan Badan Pusat Statistik (BPS), menggambarkan adanya penurunan 8,25 persen di tahun 2025 menjadi 8,07 persen di tahun 2026. Kemiskinan perdesaan masih mendominasi sebesar 10,67 persen, dibandingkan dengan kemiskinan perkotaan sebesar 6,34 persen.

Namun, jika melihat fakta di masyarakat, penurunan ini terkesan begitu dipaksanakan. Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai basis data tunggal, begitu mudahnya merubah status ekonomi sosial Masyarakat tanpa indikasi yang terukur. Secara tiba-tiba, penduduk menempati Desil 10 dengan kondisi tanpa pekerjaan yang layak dan pendapatan yang mencukupi.

Kemerdekaan Sosial: Kesetaraan hak, keadilan hukum, dan ketiadaan diskriminasi kelas dalam kehidupan bermasyarakat. Jika rakyat masih terhimpit secara ekonomi dan dibatasi secara sosial, maka kemerdekaan yang dirasakan baru sebatas kemerdekaan prosedural, bukan substantif.

Lanskap Politik dan Ekonomi Saat Ini

Realitas politik Indonesia hari ini, masih didominasi oleh konsolidasi oligarki dan elit kekuasaan. Kebijakan publik kerap kali dirumuskan melalui kompromi tingkat atas yang minim partisipasi publik secara bermakna. Demokrasi yang berlangsung sering kali berbiaya tinggi, sehingga menghasilkan kepemimpinan yang lebih berutang budi pada pemodal ketimbang pada konstituennya.

Di sisi lain, potret ekonomi nasional menunjukkan ketimpangan yang nyata antara.

Pertumbuhan Ekonomi, seperti dipaparkan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan, masih tertahan di kisaran 5 persen, namun kurang menyerap tenaga kerja berkualitas.

Sektor Ketenagakerjaan, lebih dari 55 persen tenaga kerja terserap di sektor informal dengan perlindungan minim. Kemiskinan ekstrem menurun, namun tensi kerentanan kelas menengah, meningkat akibat PHK dan daya beli masyarakat yang lesu.

Yang cukup dirasakan masyarakat saat ini, kesenjangan sosial-ekonomi antara pemerintah pusat dan daerah, hingga kini masih menjadi jurang yang menganga. Kebijakan pembangunan, kerap bersifat pusat-sentris (Java-centric atau berfokus pada megaproyek tertentu). Sementara daerah-daerah pinggiran, kerap luput dari perhatian infrastruktur dasar.

Di banyak tempat, masyarakat terpaksa berswadaya dan bergotong royong membangun jalan, memperbaiki jembatan swadaya, hingga mendirikan fasilitas umum yang seharusnya menjadi kewajiban negara. Gotong royong yang sejatinya merupakan nilai luhur bangsa, dalam konteks ini berubah menjadi manifestasi pengabaian negara terhadap hak-hak dasar warga daerah.

Kemerdekaan 100 Persen

Kondisi “setengah merdeka” ini mengingatkan kita pada pemikiran tokoh pergerakan Tan Malaka dalam karyanya Madilog dan Semangat Muda. Tan Malaka mengkonsepkan pentingnya “Kemerdekaan 100 persen.

Bagi Tan Malaka, kemerdekaan bukanlah hadiah kompromi dengan kaum imperialis, atau sekadar peralihan kekuasaan dari tuan tanah asing ke elit lokal. Kemerdekaan harus dirasakan langsung oleh kaum buruh, tani, dan rakyat jelata. Jika kemerdekaan hanya menguntungkan kaum elit penguasa dan pemilik modal (bourgeoisie), maka struktur penindasan sejatinya tidak pernah lenyap—hanya berganti wajah.

Padahal, Pembukaan UUD 1945 secara tegas telah meletakkan pondasi filosofis kemerdekaan Republik Indonesia. Negara didirikan dengan mandat mutlak:

“…memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”

Pasal 33 UUD 1945, juga mengamanatkan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Ketika mandat konstitusi ini belum terwujud sepenuhnya, maka klaim kemerdekaan utuh menjadi patut dipertanyakan.

Agar Indonesia tidak terus terjebak dalam status “setengah merdeka”, langkah strategis ke depan harus difokuskan pada pengembalian hak-hak rakyat. Redistribusi ekonomi dan keadilan agraria dengan cara membuka akses penguasaan aset secara adil agar kekayaan nasional tidak hanya menumpuk pada 1 persen kelompok teratas. Pemerataan pembangunan berbasis daerah dengan cara mengalokasikan anggaran infrastruktur secara adil, untuk memenuhi kebutuhan dasar di daerah-daerah terpencil, bukan hanya megaproyek prestisius.

Pembersihan demokrasi dari oligarki dengan cara, membuka ruang partisipasi politik rakyat yang substantif, dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Kemerdekaan Indonesia tidak boleh berhenti sebagai jargon di atas panggung upacara. Kemerdekaan sejati baru terwujud ketika tukang cukur di Bogor dapat mengibarkan Merah Putih dengan rasa bangga, karena perutnya terisi dan masa depannya dijamin negara, serta ketika rakyat di Aceh dan seluruh pelosok negeri merasakan keadilan sosial yang nyata tanpa ada diskriminasi.

ShareTweetSendShareShare

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Berhenti berlangganan
Taufiqur Rahman

Taufiqur Rahman

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Maduranet.com

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Navigate Site

  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
    • Pemerintahan
    • Parlementaria
  • Peristiwa
    • Hukum
    • Kriminal
    • Ekonomi
    • Agama
    • Kesehatan
  • Olahraga
    • Bola
  • Plesir
    • Budaya
    • Gaya
    • Kulinari
  • Daras
  • Editorial

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
Go to mobile version