Lansia Sebatang Kara Terharu Dapat Bantuan Rumah Baru

Bertahun-tahun Manu'din tinggal di rumah tak layak setelah atap rumahnya ambruk

Manu'din (76) tak kuasa menahan tangis usai menerima kunci rumah baru dari perwakilan Bani Insan Peduli (BIP).

PAMEKASAN, MADURANET — Hidup sebatang kara, Manu’din (76), warga Dusun Pelan, Desa Larangan Dalam, Pamekasan, harus menanggung getir sejak rumahnya roboh tertimpa pohon alpukat.

Dua tahun lebih ia bertahan di gubuk reot tanpa kasur, hanya beralaskan tikar bekas pemberian tetangga. Malam demi malam dilalui dengan udara dingin dan suara kodok sawah sebagai teman setia.

Nasib Manu’din berubah ketika Tim Bani Insan Peduli (BIP) Pamekasan menemukannya dalam kondisi memprihatinkan. Awalnya, BIP hanya memberikan sembako dan sedikit uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Namun, keprihatinan itu menjelma menjadi aksi nyata dengan membangun rumah baru lengkap dengan kamar mandi, kasur, hingga lemari.

Manu’din resmi menerima kunci rumah barunya pada Ahad (14/9/2025). Bendahara BIP Pamekasan, Syafik, hadir langsung menyerahkan sekaligus membawa perlengkapan dasar rumah tangga. Dalam suasana penuh haru, Manu’din hanya bisa menahan teteas air mata.

“Saya tidak menyangka bisa dapat bantuan seperti ini. Terima kasih BIP. Semoga Allah membalas semua kebaikan,” katanya lirih dengan mata berkaca-kaca.

Bagi Manu’din, rumah baru itu bukan sekadar atap pengganti gubuk, melainkan simbol kehangatan, kepedulian, dan harapan baru di masa senja.

Syafik menegaskan, program Bangun Rumah yang digagas BIP, merupakan wujud kepedulian nyata bagi masyarakat kecil yang hidup dalam keterbatasan.

“Ini bukan sekadar pembangunan fisik. Ini tentang menyentuh kehidupan mereka yang benar-benar membutuhkan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi agar program semacam ini bisa menjangkau lebih banyak warga.

“Keberhasilan ini adalah hasil kerja bersama. Sinergi seluruh tim BIP akan membuat dampaknya lebih luas,” tambahnya.

Kehadiran rumah baru Manu’din disambut hangat warga sekitar. Mereka ikut mendoakan agar program ini berlanjut dan semakin banyak warga yang merasakan manfaatnya. Bagi masyarakat desa, kisah Manu’din adalah bukti nyata bahwa solidaritas mampu mengubah hidup seseorang.

Rumah itu akhirnya bukan hanya milik Manu’din seorang, melainkan juga simbol kepedulian kolektif bahwa tidak ada yang benar-benar sendiri ketika masyarakat mau peduli.

Exit mobile version