PAMEKASAN, MADURANET – Siswa kelas VII MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning, Pamekasan, memamerkan 18 karya ilmu pengetahuan alam (IPA) berbahan barang bekas di depan Gedung Utama IBS PKMKK, Ahad (11/10/2026).
Kegiatan Di bawah bimbingan guru IPA Endang Sulastri, yang berkolaborasi dengan mahasiswa UIN Madura tersebut, turut dihadiri wali santri dan menjadi wadah program One Week Three Language.
”Kegiatan tersebut merupakan bagian dari penerapan program One Week Three Languages, yang mengintegrasikan pembelajaran IPA dengan praktik komunikasi menggunakan tiga bahasa,” jelas Endang.
Dia menjelaskan, siswa putra menampilkan delapan karya. Karya tersebut meliputi jembatan hidrolik, roket air, kincir air, roket gas, mesin hidrolik, kipas angin, perahu dinamo, dan ekskavator.
Sementara itu, lanjut dia, siswa putri memamerkan 10 karya, antara lain kincir air, komidi putar, kincir angin, mobil derek, mesin hidrolik, penyedot debu, becak, mobil tenaga air, roket air, dan dispenser.
”Melalui pameran tersebut, siswa mempraktikkan konsep IPA dalam bentuk alat peraga sederhana,” ucapnya.
Tidak hanya itu, kata Endang, mereka juga mempresentasikan karya menggunakan bahasa Inggris, Arab, dan Korea sebagai bagian dari penerapan pembelajaran lintas mata pelajaran.
Sementara itu, Kepala MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning, Heni Listiana, mengapresiasi kegiatan yang dirancang melalui kolaborasi guru IPA dan guru bahasa asing tersebut. Menurut dia, kegiatan outing class memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghubungkan materi pelajaran dengan praktik secara langsung.
”Kehadiran wali santri juga menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Mereka dapat melihat langsung karya siswa, sekaligus proses pembelajaran yang menggabungkan keterampilan sains dan bahasa,” kata Hani.
Lebih lanjut, Direktur Utama IBS PKMKK, Achmad Muhlis, menyampaikan, suasana belajar yang menyenangkan menjadi salah satu unsur penting dalam pendidikan.
Bahkan, Ia mengaitkan pendekatan tersebut dengan Kurikulum Cinta yang digagas Kementerian Agama RI.
“Apa pun materinya, pembelajaran ideal, dapat dikemas seperti outing class. Sehingga guru enjoy, santri enjoy, dan wali santri turut menikmati perkembangan putra-putrinya,” kata Achmad Muhlis.
Selain praktik sains dan bahasa, lanjut Muhlis, penggunaan barang bekas dalam pembuatan karya, menjadi bagian dari pembelajaran tentang kepedulian terhadap lingkungan.
”siswa diajak memanfaatkan bahan yang tersedia untuk membuat produk sederhana sekaligus mengenal penerapan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Muhlis.













