Dua Santri IBS PKMKK Pamekasan Menatap Harvard, Oxford, hingga Tokyo

Pesantren modern di sudut timur Pamekasan itu melahirkan generasi muda dengan mimpi global: dari riset ilmiah ke Australia, cita-cita Harvard dan Oxford, hingga medali emas olimpiade Matematika di Thailand.

Senyum Naura Reisa Alana dan Tria Fahira Nuramaja saat ditemui di IBS PKMKK, Senin (29/6/2026).

PAMEKASAN,MADURANET – Pagi di Dusun Somber, Desa Lancar, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, Senin (29/6/2026), berjalan seperti biasa. Udara segar, kendaraan sesekali melintas di jalan desa yang membelah kawasan timur kabupaten itu. Namun dari kejauhan, satu bangunan berwarna hijau menjulang tinggi, mencuri perhatian siapa pun yang datang.

Itulah Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK), sebuah pesantren modern yang berdiri di tengah lanskap pedesaan Madura. Dari luar, bangunannya tampak seperti kompleks pendidikan urban. Tapi di balik dinding hijau itu, sistem pendidikan yang dibangun memadukan dua dunia: tradisi pesantren salaf dengan fasilitas pendidikan modern.

Di tempat inilah dua siswi kelas satu MA sedang menyiapkan jalan panjang menuju panggung internasional, Naura Reisa Alana dan Tria Fahira Nuramaja.

Naura Reisa Alana, remaja asal Surabaya itu berbicara tenang, tetapi arah pikirannya melompat jauh melintasi batas negara. Saat ini, Naura sedang mempersiapkan diri mengikuti kompetisi karya ilmiah di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember. Tema yang ia angkat terbilang tidak sederhana untuk ukuran pelajar seusianya, vaksinasi ideologi terhadap anak-anak Indonesia.

“Sekarang sedang persiapan untuk mengikuti lomba karya ilmiah tentang vaksinasi ideologi terhadap anak-anak Indonesia, di Jember,” ujarnya.

Kompetisi itu menjadi salah satu tangga yang ia siapkan untuk mengejar kesempatan lebih besar, tiket akademik menuju Australia, lalu melanjutkan studi di universitas terbaik dunia seperti Harvard dan Oxford.

Di usia yang bahkan baru memasuki kelas satu MA, Naura mengaku sudah menulis empat buku ber-ISBN. Jika digabung dengan karya kolaboratif bersama teman-temannya, jumlahnya bahkan sudah tak lagi ia hitung.

“Kalau yang sama teman nulisnya sudah tidak ingat ada berapa buku,” katanya sambil tersenyum.

Namun targetnya jauh lebih besar dari sekadar lomba atau buku. Naura ingin melanjutkan studi University of Oxford, mengambil jurusan Hubungan Internasional.

Alasannya lahir dari kegelisahan yang tidak lazim diucapkan anak seusianya.

“Menurut saya, Indonesia sedang berada di ambang persoalan kemajuan. Mungkin ini disebabkan kurangnya orang untuk melakukan komunikasi internasional. Itu alasan saya ingin mengambil hubungan internasional,” ujarnya.

Di tengah aktivitas akademik yang padat, Naura juga telah menghafal tiga juz Al Quran.

Tak jauh berbeda, di sudut lain kompleks pesantren itu, Tria Fahira Nuramaja menyimpan ambisi global dengan jalan yang berbeda. Santri asal Desa Kaduara Barat, Kecamatan Larangan, Pamekasan, ini baru saja mencatatkan prestasi membanggakan sebagai peraih medali emas Olimpiade Matematika di Thailand.

Prestasi internasional itu datang ketika usianya bahkan belum genap melewati tahun pertama MA.

“Saya sudah menulis dua buku,” kata siswi yang akrab disapa Aya itu.

Meski telah menorehkan prestasi di bidang sains, Aya justru menyimpan mimpi bekerja di Jepang. Ia telah menyusun jalur pendidikannya dengan cukup matang: kuliah terlebih dahulu di Indonesia, lalu mencari peluang bekerja atau melanjutkan studi di luar negeri.

“Untuk studi, insyaallah kuliah di Indonesia dulu, baru setelah itu lanjut ke luar negeri untuk kerja atau lanjut studi,” ujarnya.

Di bidang keagamaan, Aya juga telah menghafal empat juz Al Quran. Juga, keduanya sudah bisa baca kitab kuning “Fathul Qarib”, serta mengambarkan wajah lain pendidikan pesantren di Madura.

Exit mobile version