Desa Lancar Proyeksikan IBS PKMKK Jadi Kawasan Wisata Edukatif-Religius di Pamekasan

Kolaborasi Pemerintah Desa Lancar dan IBS PKMKK dinilai menjadi model pembangunan baru di Pamekasan. Tidak hanya membangun infrastruktur, sinergi itu diarahkan untuk melahirkan kawasan pendidikan, budaya, hingga wisata edukatif-religius berbasis masyarakat.

Penyerahan simbolik sejumlah buku karya dan publikasi akademik Direktur IBS PKMKK, Achmad Muhlis kepada Kepala Desa Lancar, Muhammad Rosli, Senin (15/6/2026).

PAMEKASAN, MADURANET – Sinergi Pemerintah Desa Lancar dan lembaga pendidikan IBS PKMKK mulai diarahkan untuk membangun kawasan wisata edukatif-religius di Kabupaten Pamekasan.

Momentum tersebut ditandai dengan penyerahan simbolik sejumlah buku karya dan publikasi akademik IBS PKMKK kepada Kepala Desa Lancar, Muhammad Rosli, Senin (15/6/2026) malam. Penyerahan itu menjadi simbol kolaborasi antara pembangunan fisik desa dan pembangunan intelektual masyarakat.

Direktur Utama IBS PKMKK, Achmad Muhlis, mengatakan apresiasi diberikan kepada Pemerintah Desa Lancar atas dukungan nyata terhadap pengembangan pendidikan, salah satunya melalui pembangunan akses jalan menuju kawasan IBS PKMKK.

Ia menilai, kolaborasi itu menjadi contoh pembangunan desa yang tidak hanya berorientasi pada infrastruktur fisik, tetapi juga pembangunan pendidikan, budaya, dan penguatan sumber daya manusia.

Menurut dia, pengaspalan dan pelebaran jalan menuju lembaga pendidikan tersebut bukan sekadar proyek infrastruktur biasa, melainkan investasi sosial jangka panjang yang dampaknya akan dirasakan generasi mendatang.

“Semakin mudah masyarakat mengakses pusat pendidikan, semakin besar peluang terjadinya transformasi sosial, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pertumbuhan ekonomi lokal,” kata Muhlis, Rabu (17/6/2026).

Ia menjelaskan, pembangunan sebuah wilayah tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur fisik. Menurutnya, pembangunan harus berjalan beriringan dengan penguatan budaya literasi agar mampu melahirkan masyarakat yang lebih maju dan berdaya saing.

Hal itu, lanjut dia, menjadi alasan IBS PKMKK menyerahkan sejumlah karya intelektual kepada pemerintah desa, di antaranya buku Membangun Literasi di Bumi Kembang Kuning’, Kurikulum Al-Muwahhid: Menyemai Tauhid Merajut Peradaban, Ikhtiyar Sunyi dan Suara Takdir, serta Genealogi Kekerasan Remaja dalam Krisis Pendidikan Modern.

“Buku adalah jejak pemikiran, sementara jalan adalah sarana pergerakan. Ketika keduanya dipertemukan, lahirlah fondasi peradaban yang kuat,” ujarnya.

Muhlis menilai hubungan antara desa dan lembaga pendidikan sesungguhnya merupakan hubungan strategis dalam membangun masa depan masyarakat. Desa menyediakan ruang kehidupan, sementara pendidikan menghadirkan arah perubahan bagi masyarakat itu sendiri.

Menurut dia, keberadaan IBS PKMKK sejauh ini telah menciptakan ruang interaksi sosial baru yang mempertemukan santri, akademisi, tokoh agama, pemerintah desa, hingga masyarakat dalam ekosistem pembelajaran yang terus berkembang.

Selain meningkatkan kualitas pendidikan, keberadaan lembaga pendidikan di pedesaan juga dinilai mampu menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar serta memperluas jaringan sosial baru.

“Desa tidak lagi dipandang sebagai wilayah pinggiran, tetapi bisa tumbuh menjadi pusat perkembangan peradaban berbasis pendidikan dan nilai-nilai keagamaan,” katanya.

Ke depan, IBS PKMKK juga berharap dukungan pemerintah desa dan Pemerintah Kabupaten Pamekasan terus diperkuat untuk pengembangan kawasan pendidikan terpadu.

Salah satu gagasan yang tengah disiapkan yakni penyediaan lahan desa untuk pengembangan fasilitas penunjang seperti arena memanah, lapangan pacuan kuda, hingga fasilitas berenang yang akan menjadi bagian dari penguatan pendidikan karakter dan keterampilan hidup generasi muda.

Muhlis menilai konsep wisata edukatif-religius memiliki prospek besar di tengah perubahan tren wisata masyarakat yang kini tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga pengalaman belajar, budaya, dan penguatan nilai kehidupan.

Dengan potensi pesantren, budaya lokal, tradisi keagamaan, literasi, olahraga sunnah, serta lingkungan pedesaan yang masih asri, Desa Lancar dinilai memiliki peluang besar menjadi salah satu destinasi wisata edukatif-religius unggulan di Kabupaten Pamekasan bahkan Jawa Timur.

“Sinergi yang dibangun hari ini bukan akhir, tetapi awal perjalanan panjang untuk membangun kawasan pendidikan, kebudayaan, dan wisata religius yang manfaatnya bisa dirasakan masyarakat luas,” tuturnya.

Ia berharap kolaborasi tersebut menjadi fondasi lahirnya model pembangunan desa baru di Madura yang tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menghormati ilmu pengetahuan, memuliakan pendidikan, dan membuka jalan bagi generasi masa depan.

Exit mobile version