PAMEKASAN, MADURANET – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Pamekasan dan Badan Silaturrahmi Ulama Pesantren Madura (BASSRA) menyoroti status Kecamatan Proppo yang masuk zona merah peredaran narkoba di Kabupaten Pamekasan.
Mereka mendesak aparat penegak hukum lebih serius membongkar jaringan bandar narkotika yang dinilai masih aktif di sejumlah wilayah.
Ketua Aliansi BEM Pamekasan, Junaidi, mengaku masih meragukan keseriusan aparat penegak hukum dalam membongkar jaringan bandar narkoba di Pamekasan.
Menurut dia, pengungkapan kasus narkoba selama ini lebih banyak menyasar pengedar kecil, sementara bandar utama belum tersentuh.
“Per hari ini kami masih ragu dengan kinerja aparat penegak hukum. Sejauh ini pengungkapan kasus peredaran narkoba hanya menyentuh pengedar-pengedar kelas teri seperti di Proppo dan daerah lainnya,” ujar pemuda yang akrab disapa Juna itu, Jumat (15/5/2026).
Ia menegaskan, pengungkapan bandar narkoba menjadi langkah penting untuk memutus rantai peredaran narkotika di Pamekasan.
“Bandar pengedar narkoba tentu harus diungkap agar rantai peredaran terputus. Hal itu pasti memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap peredaran narkoba di Pamekasan,” katanya.
Juna juga meminta aparat penegak hukum menindak tegas seluruh pelaku narkoba tanpa toleransi.
Menurut dia, penyalahgunaan narkoba kini tidak hanya menyasar masyarakat desa dan perkotaan, tetapi juga mulai masuk ke lingkungan mahasiswa dan kampus.
“Korban dari peredaran narkoba bukan hanya orang-orang di pelosok desa dan kota, bahkan di daerah kampus atau mahasiswa juga menjadi korban. Hal tersebut sudah menjadi rahasia umum,” ucapnya.
Karena itu, Aliansi BEM Pamekasan mendesak aparat menunjukkan tanggung jawabnya dalam memberantas narkotika hingga ke akar jaringan.
“Kami berharap aparat penegak hukum memporak-porandakan para bandar narkoba di Pamekasan. Aparat dalam penindakan dilindungi konstitusi dan undang-undang, jadi tidak ada alasan untuk tidak menangkap bandar yang sudah teridentifikasi,” tegas Juna.
Menanggapi serius fenomena tersebut, Juru Bicara BASSRA, Muhdlar Abdullah menyampaikan, pihaknya tengah membangun koordinasi antar ulama guna menyikapi persoalan narkoba yang dinilai semakin mengkhawatirkan di Pamekasan.
Menurut dia, BASSRA dalam waktu dekat akan menggelar pertemuan khusus guna merumuskan langkah dan solusi bersama terkait fenomena tersebut.
“Dalam hal ini mengatasnamakan BASSRA, kami membutuhkan koordinasi antarulama,” ujarnya.
Ia menilai persoalan narkoba tidak bisa hanya diselesaikan melalui pendekatan hukum, tetapi juga membutuhkan peran tokoh agama dan masyarakat dalam membangun pencegahan sosial dan solusi yang berhikmah.
“Dalam waktu dekat BASSRA masih akan mengadakan pertemuan khusus terkait masalah itu,” katanya.
