Harga Plastik Global Naik, Pedagang Garam di Pamekasan Tertekan Biaya Produksi

Harga karung melonjak hingga 30 persen, sementara harga garam justru terus menurun

Petani garam melakukan packing sebelum pendistribusian ke gudang penjualan, Selasa (14/4/2026).

PAMEKASAN, MADURANET – Kenaikan harga bahan baku plastik di pasar global mulai dirasakan pelaku usaha di daerah, termasuk pedagang garam di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

Lonjakan harga tersebut berdampak langsung pada meningkatnya biaya produksi, terutama pada kebutuhan kemasan ‘karung’ dan geomembran.

Seiring kenaikan harga plastik, tekanan terhadap rantai pasok semakin terasa, menjadikan komoditas ini tidak hanya sebagai isu lingkungan, tetapi juga tantangan ekonomi bagi berbagai sektor industri.

Aftoni Ilman Fahmi, pedagang garam asal Desa Lembung, Kecamatan Galis, Pamekasan mengaku, kenaikan harga plastik sangat memengaruhi usahanya. Salah satu dampak paling terasa adalah melonjaknya harga karung sebagai media pengemasan garam.

“Tentu saja banyak dampaknya pak. Contoh di karung, geomembran dan harga pekerja,” ujar Aftoni, Selasa (14/4/2026).

Ia menjelaskan, harga karung yang sebelumnya sekitar Rp 2 juta per bal kini naik menjadi Rp 2,6 juta. Bahkan, ia mendapat informasi harga tersebut berpotensi kembali naik dalam waktu dekat.

“Kenaikan harga karung bisa di katakan 30%, geomembran naik enam ribu per meter, dari harga 16 ribu ke 22. Dan ada kabar sebentar lagi akan naik lagi pak,” katanya.

Kenaikan harga karung tersebut diperoleh dari pabrik di luar Pulau Madura, yang selama ini menjadi pemasok utama kebutuhan kemasan bagi pedagang garam di daerahnya.

Di sisi lain, tambah dia, kondisi ini diperparah oleh turunnya harga garam di pasaran. Aftoni menyebut harga garam yang sebelumnya mencapai Rp 2,5 juta per ton kini turun menjadi sekitar Rp 2 juta, bahkan ada yang dijual di bawah harga tersebut.

“Ditengah harga garam yang awalnya 2,5 jt sekarang turun jadi 2 jt, bahkan banyak pabrik yang ambil di bawah harga itu pak, ada yang 1,8jt, nanti kalo kemarau perkiraan harganya 1,5jt. Kalo kemarau panjang bisa jadi di bawah satu juta per ton itu pak,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat margin keuntungan semakin tertekan. Biaya operasional lain, seperti ongkos angkut, juga mengalami kenaikan.

“Untuk biaya angkut, yang biasanya dikisaran 30 ribu sekarang jadi 35 ribu,” kata Aftoni.

Ia juga menerangkan, kenaikan harga plastik juga berdampak pada kebutuhan sehari-hari dan biaya tenaga kerja. Menurut Aftoni, para pekerja mulai meminta penyesuaian upah karena meningkatnya harga kebutuhan pokok.

“Tidak hanya itu, naiknya harga plastik ini berakibat di naiknya beberapa kebutuhan sehari-hari. Sehingga pekerjapun ikut minta di naikkan upahnya,” sahut Aftoni.

Ia mengaku kondisi ini membuat pelaku usaha garam berada dalam tekanan ganda, yakni kenaikan biaya produksi di satu sisi dan penurunan harga jual di sisi lain.

“Biaya untuk modal penjualan makin mahal dan harga garam semakin menurun. Pusing pak!,” katanya.

Aftoni berharap pemerintah maupun pemangku kepentingan dapat memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut, baik melalui stabilisasi harga bahan baku maupun kebijakan harga garam.

“Saya berharap semua kembali normal, atau harga garam dinaikkan agar kami petani dan pedagang garam tidak kebingungan,” tutupnya.

Exit mobile version