Petani Panen Sendiri Harga Tembakau Terus Melejit

Harga tembakau sawah Rp 50.000 palingan rendah, sedangkan tembakau tegal Rp 60.000 paling rendah

Su'adah, salah satu petani asal Desa Konang, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, saat menjemur tembakaunya di lahan milik tetangganya. Tembakau sawah saat ini sudah mencapai Rp 50.000 perkilo.

PAMEKASAN, MADURANET – Tawaran tembakau petani dengan harga murah oleh pedagang, membuat mereka bergeming. Petani memilih untuk memanen sendiri tembakau mereka demi mendapatkan keuntungan lebih besar, daripada dijual ke pedagang.

Hingga memasuki awal bulan September ini, harga tembakau petani mulai melejit. Hal ini karena daun tembakau sudah memasuki tahapan daun tengah hingga daun atas.

Salah satu petani asal Konang, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, Su’adah menjelaskan, saat panen dauh bawah harganya menyesakkan dada, yakni Rp 40.000. Paling tinggi sampai Rp 45.000 perkilo.

“Kalau saya kalkulasi, dijual di sawah dengan panen sendiri selisihnya Rp 10.000. Maka saya panen sendiri dan harganya baru Rp 40.000 perkilo untuk daun bawah. Sekarang sudah daun atas harganya mencapai Rp 50.000 sampai Rp 55.000 perkilo,” kata Su’adah saat ditemui ketika menjemur tembakaunya, Rabu (3/9/2025).

Awalnya, Su’adah ragu untuk memanen sendiri tembakaunya. Sebab, ia hanya hidup berdua dengan anak perempuannya yang tidak punya gedek dan lahan untuk tempat jemuran. Namun karena kebaikan tetangganya, ia diberikan pinjaman gedek dan tempat penjemuran cuma-cuma.

“Banyak tetangga yang ikut membantu, mungkin karena saya sudah tidak punya keluarga,” imbuhnya.

Petani lainnya asal Dusun Baban, Desa Sukolelah, Kecamatan Kadur, Ainur Rofik, mengatakan, tawaran pedagang per pohon bulan Agustus kemarin hanya Rp 2.000. Rendahnya tawaran itu membuat dirinya mengambil keputusan untuk dipanen sendiri.

“Setelah saya panen sendiri, Alhamdulillah sekarang sudah tembus di harga Rp 62.000 perkilonya,” kata Ainur Rofik.

Sama halnya dengan Su’adah, Rofik juga harus meminjam gedek jemuran dan tempat kepada tetangganya. Sebab, gedek miliknya sudah dijual beberapa tahun yang lalu karena sudah tidak punya keinginan untuk memanen sendiri.

“Banyak peralatan yang pinjam ke tetangga, seperti gedek, lokasi penjemuran, mesin rajang, karena sudah lama saya tidak panen sendiri,” ungkap Rofik.

Salah satu petani asal Desa Montok, Kecamatan Laranga, Kabupaten Pamekasan, sedang memanen tembakau bagian atas sampai pucuknya.

Menurut Rofik, tembakau miliknya masuk kategori tegal gunung sehingga memiliki corak tersendiri. Hal ini berdampak kepada kualitas dan harga.

“Tembakau daerah Kecamatan Kadur ini, biasanya dijadikan bahan campuran dengan tembakau sawah dan hasilnya cukup bagus,” terang Rofik.

Exit mobile version