I’lan Kitab Kuning Digelar Terbuka di IBS PKMKK

Santri tidak cukup menguasai materi, tetapi wajib mempertanggungjawabkan pemahaman secara akademik

Dokumen IBS PKMKK.

PAMEKASAN, MADURANET – Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK) menggelar i’lan baca kitab kuning metode Al-Fatih secara terbuka di lobi utama gedung pesantren, Jumat (6/2/2026). Kegiatan ini dirancang bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan forum uji publik kompetensi santri.

Direktur Utama IBS PKMKK Achmad Muhlis menuturkan, tradisi i’lan menjadi bentuk legitimasi akademik di lingkungan pesantren. Menurut dia, ilmu tidak boleh berhenti sebagai penguasaan pribadi, tetapi harus bisa diuji secara terbuka.

“I’lan ini bukan agenda internal semata. Ini peristiwa akademik. Ilmu harus dibaca, dipahami, dan dipertanggungjawabkan di depan publik,” kata Muhlis.

Ia menyampaikan, sebanyak sembilan santri, terdiri dari enam putra dan tiga putri, tampil membaca serta menjelaskan isi kitab kuning di hadapan civitas pesantren dengan bimbingan Ustadz K Cholid Wardi.

”Selama ini kitab kuning menjadi simbol otoritas keilmuan Islam klasik. Karena itu, membaca kitab kuning bukan hanya kemampuan bahasa Arab, tetapi juga latihan berpikir kritis, memahami metodologi hukum, hingga membangun etika ilmiah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, hal ini diprogramkan untuk menjawab kebutuhan zaman, pesantren menggunakan metode Al-Fatih yang dinilai mampu mempercepat pemahaman tanpa mengurangi kedalaman materi.

“Metode boleh modern, tapi ruh tradisi tetap dijaga. Santri tidak cukup hafal, mereka harus paham dan siap diuji,” ujarnya.

Ia menambahkan, pelaksanaan i’lan di ruang semi publik sengaja dipilih sebagai simbol keterbukaan. Ilmu, kata dia, tidak seharusnya terkurung di ruang kelas tertutup.

“Pesantren harus akuntabel. Proses belajar bisa disaksikan bersama,” katanya.

Muhlis juga menyoroti keterlibatan santri putri dalam forum tersebut sebagai penegasan bahwa akses akademik di pesantren terbuka setara.

”Kapasitas intelektual tidak ditentukan gender, melainkan kesungguhan belajar,” sahutnya.

Melalui i’lan, Guru Besar Universitas IsIam Negeri (UIN) Madura itu, ingin menanamkan etos intelektual bahwa ilmu memiliki fungsi sosial.

“Ilmu itu bukan untuk disimpan. Harus diuji, dibagikan, dan diabdikan,” pungkas Muhlis.

Exit mobile version