328 Orang Suspek Campak di Pamekasan

73 persen pasien belum pernah imunisasi

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan, Syaifuddin bersama dengan Menteri Kesehatan (Berkemeja putih).

PAMEKASAN, MADURANET – Wabah campak kembali mencuat di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Hingga 31 Agustus 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan mencatat 328 kasus suspek campak, dengan hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan 160 kasus positif.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Pamekasan, Saifudin menyebutkan, dari jumlah tersebut, enam balita meninggal dunia. Mereka berasal dari Kecamatan Pasean, Panaguan, Tlanakan, dan Kowel. Mayoritas korban berusia di bawah lima tahun.

“Campak adalah penyakit yang sangat menular. Penularannya bisa hanya melalui batuk atau bersin. Karena itu, tanpa perlindungan imunisasi, anak-anak sangat rentan terkena,” kata Saifudin, saat dihubungi, Selasa (2/9/2025).

Data kurva epidemiologi yang disampaikan oleh Kadinkes Pamekasan menunjukkan lonjakan kasus signifikan, pada minggu ke 35 (24–30 Agustus), dengan penambahan lebih dari 60 kasus dalam sepekan. Wilayah kerja Puskesmas Panaguan mencatat 29 kasus positif, sementara Kecamatan Proppo menjadi episentrum dengan total 40 kasus.

Sebaran kasus meluas ke sedikitnya 12 desa dengan status kejadian luar biasa (KLB), termasuk Batukalangan, Bugih, Dasok, Gladak Anyar, Jambringin, Jarin, Kramat, Panaguan, dan Polagan.

Investigasi Dinas kesehatan (Dinkes) menemukan fakta mencemaskan, 73 persen pasien campak sama sekali belum pernah diimunisasi. Hanya 14 persen yang memiliki imunisasi lengkap.

Tren cakupan imunisasi campak rubella di Pamekasan juga terus menurun. Dari 85 persen pada 2020, kini tinggal 50,57 persen per Juli 2025. Artinya, hampir separuh anak di kabupaten ini hidup tanpa perlindungan vaksin.

“Ini persoalan serius. Rendahnya cakupan imunisasi menjadi penyebab utama meningkatnya kasus campak,” ujar Saifudin.

Distribusi usia pasien, tambah Kadinkes, menunjukkan mayoritas penderita adalah anak balita usia 1–4 tahun dengan 105 kasus. Disusul kelompok usia 5–9 tahun (28 kasus), bayi di bawah 1 tahun (12 kasus), serta 15 kasus pada anak di atas 10 tahun dan dewasa.

“Sebagian pasien kini dirawat di rumah sakit. Sisanya menjalani isolasi mandiri di rumah. Seluruh pasien sudah mendapat Vitamin A,“ jelas Saifudin.

Dinkes Pamekasan telah menetapkan langkah darurat berupa Outbreak Response Immunization (ORI) dengan target 5.016 anak usia 9–59 bulan. Namun, dari usulan 650 vial vaksin, baru 200 vial yang diterima dari provinsi.

Selain itu, petugas lapangan diperintahkan melakukan investigasi epidemiologi setiap kasus dalam 2×24 jam, isolasi pasien, pengambilan sampel darah dan urine untuk laboratorium, serta penguatan surveilans berbasis masyarakat.

“Kami sedang mengejar cakupan imunisasi darurat, tapi pasokan vaksin masih jauh dari kebutuhan. Dukungan dari provinsi dan pusat sangat diharapkan,” kata Saifudin.

Pihaknya menegaskan, campak bukan sekadar penyakit dengan bintik merah di kulit. Dalam kasus berat, ia bisa merusak paru-paru, otak, bahkan menyebabkan kematian. Enam balita yang meninggal menjadi bukti nyata bahwa kelalaian imunisasi berakibat fatal.

Exit mobile version