Sosok Ustad Ihya Ulumuddin yang Sukses Cetak Santri Al Majidiyah Palduding Mahir Bahasa Mandarin

Ihya Ulumuddin, penggerak Bahasa Mandarin dari bilik pesantren

Ihya Ulumuddin saat menjadi MC graduate party di Zhejiang university

PAMEKASAN, MADURANETDi sebuah sudut kampung Kabupaten Pamekasan, tradisi pesantren berintegrasi dengan bahasa Mandarin yang lahir ribuan kilometer jauhnya. 

Perpaduan itu melahirkan prestasi besar tim santri Ma’had Aly Al-Majidiyah Palduding, Pamekasan, menjadi juara pertama Disway Mandarin Debate & Speech Competition 2025 di Atrium Tunjungan Plaza 6 Surabaya, awal Oktober lalu.

Di balik kemenangan itu, ada nama Ihya Ulumuddin, kelahiran Bangkalan.
Bukan tokoh akademik formal kampus besar di kota metropolitan, melainkan alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo yang meniti jalan studi ke Tiongkok, Cina. Di China,  Ihya meraih gelar S1 dari Huaqiao University dan S2 dari Zhejiang University, salah satu universitas terbaik di negeri itu.

Ihya mengaku, ketertarikannya pada Bahasa Mandarin bukan lahir dari rencana panjang. Waktu nyantri di Pondok Pesantren Nurul Jadid, ia justru fokus di program Bahasa Arab sambil belajar Mandarin.

“Guru saya yang tiba-tiba meminta saya ikut lomba Mandarin tingkat Jawa Timur. Saya bahkan baru belajar setahun,” kenangnya saat dihubungi Maduranet, Jumat (31/10/2025).

Namun, perlombaan itu justru membuka dunia baru bagi Ihya. Ia merasa bahasa tersebut menghubungkan santri dengan jejaring luas. Dari situ, Ihya memiliki minat menempuh pendidikan ke Tiongkok.

Di Zhejiang University, kampus di kota Hangzhou, sekitar 180 km dari Shanghai, ia merasakan atmosfer akademik yang kuat. Perpustakaannya menyimpan sekitar 7 juta koleksi buku, salah satu yang terbanyak di Tiongkok.

“Belajar di sana membuka cakrawala berpikir saya,” ujarnya.

Ketika Ihya mengajar Bahasa Mandarin di Ma’had Aly Al-Majidiyah Palduding, Kecamatan Palengaan, pertanyaan pun muncul dari orang tua.

“Mengapa pesantren salaf mengajarkan Bahasa Mandarin? Para pengurus menjawab dengan sejarah. Nabi pernah memerintahkan sahabat belajar bahasa asing agar diplomasi berjalan tanpa manipulasi. Ada maqolah: siapa yang tahu bahasa suatu kaum, ia terhindar dari tipu daya mereka,” jelasnya.

Baginya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan instrumen mengelola pengetahuan.

Ihya menyadari, tantangan terbesar ialah membuat santri tertarik. Itu sebab ia menghubungkan bahasa dengan aspek budaya.

“Belajar bahasa berarti belajar budaya. Saya memasukkan Taichi, double-stick, gerak bela diri Tiongkok yang punya makna filosofis,” ungkapnya.

Pendekatan ini membuat santri merasa Bahasa Mandarin bukan bahasa asing yang dingin, tetapi medium interaksi yang hidup.
Lingkungan belajar pun dibentuk, kosakata dipasang di sudut-sudut pesantren, komunikasi dibiasakan.

“Guru yang ahli saja tidak cukup tanpa lingkungan bahasa yang mendorong,” katanya.

Di balik keberhasilan lomba, Ihya menerapkan seleksi internal ketat.
Penilaian dilakukan per individu, bukan tim.

“Kami menilai kekuatan argumen, logika kritis, dan kemampuan mengelola data. Sebetulnya disini diskusi menggunakan Mandarin sudah menjadi kebiasaan, bahkan saat mengkaji kitab, ” ungkap pemilik akun Tiktok bernama Wang Madura.

Ma’had Aly Palduding juga menyabet juara tingkat nasional kategori SMA, dan menempati peringkat atas kategori mahasiswa.

Selain aspek budaya, Ihya melihat Mandarin sebagai jalan pembuka peluang karier.

“Tiongkok tumbuh pesat. Mereka butuh SDM lokal yang paham Mandarin ketika ekspansi. Upahnya besar,” ujarnya.

Di kampung kecil Pamekasan, jejak kota pelajar Hangzhou hadir lewat Ihya.
Bahasa Mandarin, yang jarang terdengar di pesantren salaf, kini menjadi pintu yang menghubungkan santri dengan dunia global.

“Bahasa adalah jembatan. Jika santri bisa melewatinya, dunia tak lagi jauh,” pungkasnya.

Prestasi yang membanggakan bagi santri Al Majidiyah Palduding, sebanyak 7 santrinya akan studi tour ke Tiongkok yang difasilitasi Harian Disway Surabaya. Mereka akan dilepas oleh Bupati Pamekasan Kholilurrahman pada Sabtu (1/11/2025).

Exit mobile version