Jurnalis Senior AJP Rekomendasikan Nama Tokoh Pamekasan Jadi Nama Fasilitas Umum

PAMEKASAN, MADURANET – Jurnalis senior Kabupaten Pamekasan, Mohamad Ghozi Mujtaba, merekomendasikan kepada Pemerintah Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, agar nama-nama tokoh dijadikan sebagai sebuah nama tempat fasilitas umum. Hal itu bertujuan untuk memudahkan nama mereka dikenal masyarakat, khususnya generasi muda.

Pria yang akrab disapa Ghozi ini mengatakan, salah satu media yang efektif untuk mengenalkan tokoh-tokoh Pamekasan kepada generasi muda di antaranya melalui penamaan fasilitas umum. Seperti nama pendapa dengan nama Pendapa Ranggasukawati.

“Orang akan mudah mengenal nama raja Islam Pamekasan dengan Ranggasukawati. Jika nama tokoh lain dilekatkan ke fasilitas umum lain, akan mudah dikenal,” ujar Ghozi, saat menyampaikan testimoni kebudayaan dalam Sarasehan Budaya yang digelar Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP), Dewan Kesenian Pamekasan (DKP) dan KNPI Pamekasan, Rabu (28/10/2026).

Ada beberapa nama yang berpotensi untuk menjadi nama yang bisa dipakai, seperti Arya Menak Senoyo sebagai raja Islam pertama di Kerajaan Parupuh, Ki Wonorono, Nyai Banu Ratu Pamellingan, Pangeran Bonorogo, Ratu Enten, Raden Azhar, Raden Ismail dan masih banyak nama lainnya.

“Kalau ada nama gedung Perpusda M. Tabrani, mengapa belum ada nama R. Katjasungkana sebagai nama bangunan. Padahal peran R. Katjasungkana sama besarnya dengan M. Tabrani dalam Kongres Pemuda I dan II,” imbuh Ghozi.

Anggota Alinasi Jurnalis Independen (AJI) Kota Surabaya ini mengungkapkan, ada nama sebuah taman di Pamekasan yang kurang pas untuk dijadikan sebagai nama. Seperti Taman Potre Koneng di Jl. Trunojoyo. Potre Koneng berasal dari Kabupaten Sumenep. Sedangkan di Pamekasan ada nama yang tak kalah besar perannya, yakni Raden Ayu Kumala Intan atau dikenal dengan Ratu Enten yang merupakan istri raja Pamekasan, Ranggasukawati.

“Ratu Enten itu besar sekali perannya dalam mendukung Ranggasukawati memimpin Pamellingan. Sangat layak jika namanya diabadikan menjadi sebuah nama fasilitas umum. Yang ada Rato Ebu, nama yang populer di Sampang dan Bangkalan,” ungkapnya.

Menurut pembina AJP ini, ide untuk mengenalkan nama-nama tokoh Pamekasan menjadi nama fasilitas umum sudah lama dicetuskan. Seingat Ghozi, tahun 2016 gagasan itu sudah disampaikan dalam berbagai macam forum. Namun sampai saat ini, ide ini belum mendapat tanggapan dari Pemkab Pamekasan.

“Selain menjadikan bahasa Madura sebagai pelajaran wajib bermuatan lokal di sekolah, pengenalan nama tokoh juga tak kalan penting. Semoga ide ini segera direspon oleh pemerintah,” harapnya.

Exit mobile version