PAMEKASAN,MADURANET – Di sudut Jalan KH Agus Salim, tepatnya di simpang tiga sebelah selatan Lapangan Sedangdang, Hasan (69), telah menjajakan topi sejak 1971. Lebih dari setengah abad, kota berubah, anak-anaknya tumbuh, cucunya bertambah. Namun, setiap pagi ia tetap membuka lapak dan menunggu pembeli datang.
55 tahun, ia berada di tempat yang sama, menunggu orang yang singgah untuk membeli dagangannya.
“Saya jualan di sini sebelum kamu lahir Dik. Mungkin ayahmu juga masih anak-anak,” ucap Hasan, sambil tertawa, Jumat (9/10/2026).
Ia ingat, Pamekasan pada masa itu belum seramai sekarang. Jalanan belum dipadati kendaraan seperti hari ini. Waktu berjalan, wajah kota berubah, tetapi Hasan tetap bertahan di sudut jalan itu. Lapak kecilnya menjadi bagian dari rutinitas yang terus ia jalani selama puluhan tahun.
Hasan merupakan warga asli Bangkalan. Mulai remaja ia merantau ke Pamekasan untuk mengais rejeki. Ia kemudian kepincut dengan gadis dari Kelurahan Barurambat Kota, Kecamatan Pamekasan. Perempuan yang dinikahinya, merupakan penjual kopi.
Setiap pukul 06.00 Wib, Pak Hasan mulai membuka lapak. Topi-topi dipajang di atas gerobak, menunggu pembeli yang datang silih berganti. Menjelang siang, dirinya biasa menutup lapaknya dan pulang untuk beristirahat ke rumahnya.
Tidak ada jam kerja yang rumit. Tidak pula target penjualan yang ia ceritakan. Ia datang, membuka lapak, lalu menunggu.
“Kalau umur sudah tidak saya hitung, tahun kelahiranpun saya tidak ingat juga,” katanya.
Puluhan tahun berjualan membuat Hasan terbiasa dengan tempat itu. Bahkan, ketika ia pulang, gerobak dan dagangannya tetap ditinggalkan di sana. Ia tidak merasa perlu membawa semuanya pergi setiap hari.
“Kalau pulang, ya gerobak tetap di sini. Siapa yang mau ambil? Saya sudah lama di sini,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan kepercayaan yang tumbuh dari waktu. Hasan telah melewati begitu banyak hari di sudut jalan tersebut. Tempat itu bukan sekadar lokasi berjualan, melainkan ruang yang telah akrab dengannya selama sebagian besar hidupnya.
Hasan sudah memiliki istri, anak, dan cucu. Ia bukan lagi pemuda yang datang dari Bangkalan untuk merintis penghidupan. Namun, bertambahnya usia, tidak serta-merta membuatnya ingin berhenti bekerja.
Di rumah, ada keluarga yang menunggunya. Di lapak, ada kemungkinan pembeli datang. Selama tubuhnya masih mampu, Hasan memilih menjalani keduanya, pulang kepada keluarga setelah menuntaskan pekerjaan hari itu, lalu kembali membuka lapak keesokan paginya.
“Sebagai laki-laki memang harus tetap bekerja,” katanya.
Bagi Hasan, pensiun belum menjadi pilihan. Ia tidak menyebut angka penghasilan atau rencana untuk memperbesar usaha. Yang ia pegang justru sesuatu yang lebih sederhana.
”Selama masih kuat, ya terus berjualan,” tuturnya.
Di tengah Pamekasan yang tumbuh semakin ramai, Hasan tetap menempati sudut kecilnya. Sepeda motor Honda Supra yang telah menemaninya selama puluhan tahun menjadi salah satu saksi perjalanan itu.
Usianya tak lagi ia hitung. Barangkali, baginya, yang lebih penting bukan berapa lama ia telah berjualan, melainkan apakah ia masih sanggup melanjutkannya.
Besok pagi, ketika jalan mulai sibuk dan orang-orang bergegas menuju urusan masing-masing, Hasan kemungkinan kembali datang sekitar pukul enam. Topi-topi akan kembali tersusun di atas gerobak. Ia akan duduk, menunggu, dan menyapa siapa pun yang berhenti.













