PAMEKASAN, MADURANET – Sujiwo Tejo yang memiliki nama asli, Agus Hadi Sudjiwo, sastrawan sekaligus dalang wayang kulit berdarah Madura, akan tampil bersama dengan dalang wayang kulit berbahasa Madura asal Kabupaten Pamekasan, Novem Ali Sahos Sudirman dalam pagelaran wayang kulit berbahasa Madura di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Menurut rencana, duet dalang ini akan digelar pada Sabtu (15/11/2025)
Sebelum keduanya mentas, keduanya akan menggelar latihan bersama di Vihara Avalokitesvara, Dusun Candi Utara, Desa Polagan, Kecamatan Galis. Di sana, mereka akan memainkan wayang kulit, diiringi oleh kelompok musik karawitan Sanggar Panti Budaya, pimpinan Kosala Mahinda.
Sudirman, Sang Dalang Kepada Maduranet menjelaskan, Sujiwo Tejo akan latihan bersama selama dua hari, mulai hari Jumat sampai hari Sabtu di Vihara Avalokitesvara.
“Agar saat pementasan bisa berjalan lancar, kami butuh latihan bersama. Sebab, bahasa yang digunakan merupakan bahasa Madura, sesuai dengan pesanan dari panitia penyelenggara,” ujar Sudirman, Kamis (6/11/2025).

Menurut Sudirman, tampil duet dengan mantan wartawan Kompas kelahiran Jember tahun 1962 itu, merupakan kebanggan. Sebab, pria yang juga dikenal sebagai Presiden Republik Jancuker itu, merupakan seniman, sastrawan dan dalang yang sudan memiliki jam terbang tinggi. Bahkan, pria yang akrab disapa Mbah Tejo itu, sudan melanglang buana ke manca negara dalam berbagai even kebudayaan.
“Siapa yang tidak bangga jika duet dengan sastarawan besar. Secara tidak langsung, saya akan kecipratan citra Mbak Tejo,” terang Sudirman.
Sudirman bukan pendatang baru dalam dunia pewayangan. Reputasinya sudah tidak diragukan lagi. Ia juga beberapa kali mentas di beberapa keraton di Jawa menggunakan bahasa Madura. Bahkan, pada pertengahan tahun 2000-an, Sudirman tampil bersama dengan dalang bule dari berbagai negara di Viahara Avalokitesvara. Pementasan wayang tersebut sampai memperoleh rekor MURI.
Ketua Sanggar Panti Budaya Pamekasan, Kosala Mahinda menjelaskan, duet Sujiwe Tejo dengan Sudirman, akan berdampak terhadap meluaskan wayang Madura di berbagai daerah di Indonesia. Saat ini, pandangan masyarakat tentang wayang adalah Jawa. Padahal, di Madura juga ada wayang kulit yang tak kalah hebatnya dengan wayang Jawa.
“Kami memiliki tekad besar untuk mengenalkan wayang Madura ke dunia luar, bahkan sampai ke manca negar. Sekarang ini momentum yang kesekian kalinya, karena dalang Madura akan duet dengan dalang hebat,” ungkap Kosala.