PAMEKASAN, MADURANET — Pemerintah Kabupaten Pamekasan menggelar Festival Batik Madura & Ekonomi Kreatif di Gedung Bakorwil IV, Sabtu (1/11/2025) pukul 10.00 WIB. Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Jadi Pamekasan ke-495, menghadirkan perajin batik dari empat kabupaten di Madura serta pelaku industri kreatif.
Dalam sambutannya, Bupati Pamekasan Kholilurrahman, menegaskan bahwa batik merupakan bagian penting dari identitas budaya Madura yang tak hanya mengandung nilai estetika, tetapi juga memiliki potensi ekonomi besar.
“Festival ini bukan sekadar atraksi budaya. Ini adalah penguatan komitmen untuk memastikan batik tetap menjadi bagian penting dalam menyejahterakan masyarakat,” ujar Kholilurrahman.
Ia juga mengajak masyarakat untuk kembali merawat tradisi membatik sebagai warisan yang telah menjadi denyut ekonomi warga Madura.
Kholilurrahman mengingatkan, pada 24 Juni 2009, Pamekasan resmi dicanangkan sebagai Kota Batik oleh Gubernur Jawa Timur. Sejak itu, pemerintah daerah berupaya mempercepat pertumbuhan industri batik tulis.
Salah satu tonggak perayaan budaya ketika itu adalah pemecahan rekor MURI melalui kegiatan “Super Batik” seribu perempuan membatik pada kain sepanjang 1.530 meter, merujuk tahun kelahiran Pamekasan.
Selain itu, lanjut Bupati, lahir beragam inisiatif seperti pemilihan Putri Batik Pamekasan, penciptaan tari Bhatik Mekkasan, serta penerbitan buku “Pamekasan Membatik” yang mendokumentasikan perjalanan batik Pamekasan.
“Potensi budaya ini berkembang melalui kreativitas anak muda hingga menjadi ikon daerah,” kata Bupati.
Bupati juga menyoroti perkembangan inovasi dari kalangan pendidikan, seperti Politeknik Negeri Madura (Poltera) yang telah mengembangkan peralatan batik tulis elektronik.
“Teknologi membantu meningkatkan kualitas, tetapi kita tetap harus memperhatikan serapan tenaga kerja masyarakat,” ujarnya Kholilurrahman.
Bupati meyakini bahwa pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi daerah.
“Batik bukan hanya bagian dari sejarah. Ia harus menjadi ruang tumbuh bagi kreativitas, usaha, dan peningkatan kesejahteraan,” katanya.
Salah satu perajin batik asal Toket, Proppo, Hamim, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya festival ini. Ia menilai acara semacam ini berdampak langsung terhadap pemasaran produk batik lokal.
“Kami sangat berterima kasih kepada Bupati. Festival ini tentu mendongkrak minat masyarakat terhadap batik,” kata Hamim, pemilik merek Batik Kholifah.
Ia berharap perhatian pemerintah dapat terus menghidupkan kejayaan batik Pamekasan.
“Semoga batik Pamekasan kembali ke masa jayanya dan makin melambung,” ujarnya.
Selain pameran batik, agenda juga menampilkan fashion show yang memadukan batik dengan desain busana modern.
“Indonesia, khususnya Madura, diingatkan memiliki keragaman motif dan filosofi batik yang dapat menjadi pijakan dalam pengembangan industri kreatif,“ kata Hamim.
Keikutsertaan empat kabupaten di Madura memperlihatkan upaya bersama membangun jejaring pemasaran batik, baik di tingkat regional maupun nasional.
Festival ini menjadi ruang pertemuan antarperajin, desainer, pelaku usaha, dan masyarakat. Pemerintah berharap kegiatan semacam ini memperkuat rantai produksi batik, mulai dari pembatikan, pewarnaan, hingga pemasaran.
