PAMEKASAN, MADURANET – Bupati Pamekasan, Kholilurrahman meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mengkaji ulang data potensi kekeringan tahun 2026. Pasalnya, data yang diajukan kepadanya, diperkirakan masih ada tambahan potensi. Hal itu berdasarkan banyak pesan pribadi yang masuk melalui hand phone, terkait permintaan bantuan air bersih.
“Saya masih ragu dan tidak yakin 100 persen, data yang diajukan BPBD valid. Oleh sebab itu, saya minta BPBD untuk lebih selektif lagi mendata potensi kekeringan di Pamekasan,” ujar Kholilurrahman, Ahad (12/7/2026).
Menurut Kholilurrahman, Kecamatan Pakong yang dinyatakan nol potensi kekeringan, masih berpotensi mengalami kekurangan air bersih. Oleh sebab itu, pihaknya meminta agar BPBD untuk berkordinasi lagi dengan camat dan kepala desa di wilayah tersebut.
“Pakong sama sekali tidak ada potensi kekeringan. Menurut saya, ini perlu dikaji dan perlu kordinasi dengan camat dan kades guna memastikan data,” imbuhnya.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Pamekasan, Akhmad Dhofir Rosidi menjelaskan, selama sepekan ini tim survei sedang bekerja di lapangan untuk memverifikasi data. 33 dusun se-Kabupaten Pamekasan yang telah disampaikan kepada Bupati Pamekasan, masih berpotensi bertambah atau berkurang.
“Potensi berkurang dan bertambah masih ada. Tim kami di lapangan sedang verifikasi data. Minggu ini sudah kelar dan akan disampaikan kepada Bupati terkait perkembangannya,” kata Dhofir.
Menurut Dhofir, potensi bekurangnya data bisa terjadi karena peran desa yang melakukan pengeboran air untuk memenuhi kebutuhan air bersih di masing-masing dusun.
“Ada desa yang sebagian dana desanya digunakan untuk pengeboran. Maka, secara otomatis dusun yang sebelumnya kekurangan air bersih, sudah bisa terpenuhi melalui pengeboran tersebut,” imbuhnya.
Tahun ini, BPBD Pamekasan memprediksi potensi kekeringan terjadi di seluruh kecamatan di Pamekasan, kecuali Kecamatan Pakong. Sedangkan 12 kecamatan lainnya, berpotensi mengalami kekeringan. Empat kecamatan paling parah yakni Kecamatan Batumarmar dengan 11 desa terdampak. Kecamatan Waru dengan 11, Kecamatan Palengaan dengan 10 desa terdampak, dan Kecamatan Tlanakan dengan 10 desa terdampak.
Sedangkan Kecamatan Pamekasan, yang sebelumnya tidak pernah merasakan dampak kekeringan, tahun ini diprediksi ada satu desa dengan 3 dusun yang akan terdampak.
Secara keseluruhan, desa yang diprediksi terdampak kekeringan tahun ini, berjumlah 85 desa yang terbagi ke dalam 338 dusun se-Kabupaten Pamekasan.
Adapun puncak musim kemarau, akan terjadi pada Agustus hingga September. BPBD akan melakukan persiapan lebih awal agar distribusi air bersih dapat segera dimanfaatkan masyarakat.
