PAMEKASAN, MADURANET – Selama 18 bulan menjalan tugas sebagai Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Madura di Kabupaten Pamekasan, Achmad Rofi’i merasakan atmosfer sosial yang berbeda, dibandingkan dengan stigma lama tentang Madura.
Sebelum menginjakkan ke tanah Madura, stigma yang muncul di fikirannya bahwa orang Madura keras, indentik carok, gersang dan tertinggal secara ekonomi. Namun stigma itu berubah seiiring berjalannya tugas yang ia jalankan.
“Ternyata Madura itu ramah, penuh kekerabatan dengan orang baru, mudah diajak komunikasi dan humoris,” ujar Achmad Rofi’i kepada Maduranet, saat berpamitan mengakhiri tugasnya di Pamekasan, Rabu (5/8/2026).
Kini Rofi’i ditugaskan sebagai Kepala Bulog di Kepulauan Riau, Sumatera. Selama menjalan tugas di Pamekasan, dirinya keliling empat kabupaten di Madura sebagai wilayah kerjanya.
“Empat kabupaten sudah saya sisir semua. Alhamdulillah orangnya baik, warga dan kepala desanya enak diajak komunikasi, para pejabat menyambut baik program Bulog,” imbuhnya.
Yang paling berkesan yaitu kehidupan di Kabupaten Pamekasan. Di kota Gerbangsalam ini, dirinya merasakan kenyaman dan ketenangan. Pamekasan merupakan daerah yang cukup maju dan berkembang. Bahkan semua sarana yang dibutuhkan tersedia.
“Tempat nongkrongnya bagus-bagus. Wisata budayanya bagus, wisata kulinernya lengkap dan enak-enak semua,” katanya.
Pamekasan menurut pria bertubuh subur ini, satu-satunya kota yang tidak ada matinya di Madura. Jam 02.00 dini hari, suasananya masyarakatnya masih hidup. Kendaraan masih banyak lalu-lalang. Kuliner masih ada yang melayani dan aman dari gangguan sosial.
“Pamekasan layak jadi kota maju di Madura. Saya sangat kerasan dan banyak kenangan di sini, terutama kulinernya enak-enak dan lengkap,” tandasnya.
Rofi’i sendiri, sudah memiliki bekal secara sosial sebelum bertugas di Madura. Pasalnya, ia ditugaskan di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, yang notabene sering disebut sebagai daerah Madura pendalungan atau Madura swasta. Bondowoso mayoritas penduduknya adalah suku Madura yang secara karakter, tidak ada perbedaan secara mencolok dari karakternya hingga kehidupan sosialnya.
“Saya mudah beradpatasi di Madura, karena sebelumnya sudah kenyang makan garam di Bondowoso yang notabene adalah orang suku Madura,” ungkapnya.
Selama dipimpin Achmad Rofi’i, Bulog Madura sudah mulai terbuka dari berbagai hal. Salah satunya disampaikan Joni Pranata, jurnalis asal Pamekasan. Bulog sudah tidak eksklusif seperti dulu yang susah diakses informasinya.
“Pak Rofi’i ini mampu merubah stigma Bulog yang tertutup menjadi terbuka. Ini prestasi yang bagus dan bisa diterapkan Rofi’i saat bertugas di tempatnya yang baru,” kata Joni.
