PAMEKASAN, MADURANET – Untuk merawat Bahasa Madura agar tetap digandrungi sebagai bahasa percakapan sehari-hari di kalangan generasi muda Madura, mini Komunitas Dhu’remmek (Abhundhu’ rembhâgghâ Mekkasan),
sosialisasi Revitalisasi Bahasa Madura ke sejumlah lembaga pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Pamekasan.
Langkah ini dilakukan, karena adanya kekhawatirkan Bahasa Madura sebagai Bahasa ibu akan punah tergerus globalisasi. Dan generasi muda Madura mulai merasa malu dan kurang percaya diri manakala menggunakan Bahasa Madura dalam percakapan sehari-harinya.
Ketua Dhu’remmek Pamekasan, Siti Fatimah, yang juga pemerhati Bahasa Madura mengatakan, dalam setiap kegiatan sosialisasi ini pihaknya menggandeng Dinas Pendidikan (Disdik), Pamekasan. Mereka yang hadir guru sekolah dasar (SD), siswa SD dan siswa sekolah menengah pertama (SMP), serta guru yang memilki kepedulian terhadap Bahasa Madura.
Siti Fatimah, mantan Kepala SDN Jungcangcang I, Kecamatan Kota, Pamekasan, didampingi mitra kerjanya, Chandra Darmawan, Kepala SDN Srambah, Kecamatan Proppo, Pamekasan, mengungkapkan, pihaknya inten bersama Kelompok Kerja Guru (KKG) setempat menguraikan, bagaimana Bahasa Madura tetap terjaga dan terus dilestarikan. Jangan sampai Bahasa Madura ini menghilang.
“Kalau Bahasa Madura tidak dilestarikan, maka bisa punah. Kenapa begini, karena banyak orang tua yang tidak mau mengenalkan bahasa Ibu sejak dini kepada anak-anaknya. Orang tua lebih bangga memperkenalkan Bahasa Indonesia atau bahasa asing kepada anak-anaknya, dari pada Bahasa Madura. Sebagian orang tua beranggapan, jika Bahasa Madura merupakan bahasanya masyarakat pedesaan. Begitu juga, banyak guru yang kurang memiliki kompetensi dalam mengajar Bahasa Madura di kelasnya,” ujar Fatimah, kepada Maduranet.com, Jumat (12/6/2026).
Siti Fatimah, yang mengaku sering diundang sebagai nara sumber, menyangkut Bahasa Madura, memaparkan, selama ini anak-anak ketika duduk di bangku TK dan SD, sekarang mulai jarang menggunakan Bahasa Madura, terutama di perkotaan. Dalam pergaulan sehari-hari masyarakatnya lebih senang menggunakan Bahasa Indonesia.
Hal ini akan berdampak pada kurangnya etika dalam berbicara, terutama kepada orang yang lebih tua. Baik di rumah, di sekolah ataupun di masyarakat. Padahal, ketika berbicara dengan orang yang lebih tua itu ada aturan tersendiri yang disebut “Onḍhâgghâ bhâsa”. Bahasa populernya Unggah- ungguh
“Rendahnya kalangan siswa menggunakan Bahasa Madura dalam percakapan, karena tidak dibiasakan atau tidak dicontohkan dalam penggunaan Bahasa Madura yang baik dan benar, terutama oleh orang-orang terdekatnya,” kata Siti Fatimah.
Diungkapkan, dalam merawat Bahasa Madura, Disdik Pamekasan memiliki peran penting. Pihak disdik sudah membentuk KKG Bahasa Madura di 13 kecamatan.
Fatimah menyatakan, ia sudah mencintai Bahasa Madura semenjak duduk di bangku SD. Ia berharap, bagi guru saat mengajar Bahasa Madura, di dalam kelas, untuk mempermudah sehingga siswanya tertarik dengan Bahasa Madura, hendaknya guru bersangkutan dalam berkomunikasi dengan siswanya, sekali-kali menggunakan Bahasa Madura yang baku. Bila perlu, untuk kelas rendah guru itu bercerita atau mendongeng dengan menggunakan Bahasa Madura. Terutama kelas rendah, karena biasanya anak-anak seusia itu suka sekali mendengarkan cerita.
Fatimah mengaku bersama timnya telah menerbitkan buku Destinasi Bahan Ajar Bahasa Madura yang bekerjasama dengan Disdik, juga bersama timnya membuat buku bahan ajar Bahasa Madura, yang bekerjasama dengan salah satu penerbit terkenal.
Selanjutnya, Fatimah menyampaikan terima kasih kepada Kadisdik Pamekasan, Basri Yulianto, yang telah memberikan kontribusinya pada program pembelajaran Bahasa Madura, khususnya untuk siswa di tingkat SD.
