PAMEKASAN, MADURANET – Ada rasa bangga yang terpatri di hati Mohtar Efendi (42), warga Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan. Kebanggaan ini karena kini jadi pendamping untuk 40 santri penyandang disabilitas tunarungu (gangguan pendengaran) di Pamekasan.
Kesibukan yang ditekuni sejak lima tahun belakangan ini, dilakukan dengan ikhlas tanpa bayaran. Semua ini dijalani semata-mata sebagai rasa tanggung jawab, atas karunia Allah yang telah memberikan ilmu bahasa isyarat untuk diajarkan kepada santri tunarungu.
Pria berusia 42 tahun, sehari-harinya
mengajar Bahasa Inggris di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Amin, Banyupelle, Kecamatan Palengaan, mengaku senang dan bahagia berbagi ilmu pada mereka (penyandang tunarungu). Karena baginya, kebahagiaan mereka juga kebahagiaan dirinya.
“Selama saya bersama mereka, perasaan saya senang. Saya patut bersyukur dan bangga kepada mereka. Sebab, mereka tidak bisa mendengar, tidak bisa bicara dan berkomunikasi bisanya lewat bahasa isyarat. Tetapi mereka bisa menikmati hidup, tanpa mengeluh sedikitpun,” ujar Mohtar kepada maduranet.com.

Menurut Mohtar, kali pertama yang dilakukan dirinya sebatas Juru Bahasa Isyarat (JBI), untuk membantu mereka memudahkan berkomunikasi dengan sejumlah kepala dinas, termasuk dengan bupati menyangkut kebutuhan mereka. Seperti ke Kantor Kementerian Agama (Kankemenag), dinas sosial, rumah sakit, Badan Penyanggah Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Misalnya, mendampingi mereka bagaimana caranya menjadi peserta BPJS Kesehatan, apakah lewat peserta mandiri atau melalui program bantuan pemerintah. Serta ke dinas sosial, bagaimana mendapatkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH).
Namun dalam perjalanannya, ia tak hanya jadi JBI, melainkan mengajari mereka ilmu fiqih. Di antaranya niat salat, cara berwuduk, hal-hal mengenai puasa, macam-macam najis. Halal haram, hukum wajib, hukum sunnah, makruh dan lain-lain berkaitan dengan ibadah.
Dikatakan, awalnya jumlah mereka yang didampingi sekitar 10 orang, lalu kemudian dibentuklah wadah berupa komunitas Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin), hingga berjumlah 60 orang. Hanya saja belakangan yang aktif mengikuti pertemuan bimbingan sekitar 40 orang, terdiri laki-laki dan perempuan, berusia 12 tahun hingga 45 tahun. Bahkan ada yang suami istri. Mereka dari Kecamatan Tlanakan, Kecamatan Proppo, Kecamatan Kota, Sumenep dan Sampang.
Mohtar mengungkapkan, awalnya ketika mengajar mereka, sementara menempati masjid di Larangan Tokol, yang berlangsung setiap minggu. Kemudian berpindah dari masjid ke masjid lainnya. Akhirnya ia membawa perwakilan mereka menemui Kepala Kankemenag Pamekasan, Mawardi, menyampaikan keluhannya mengenai kebutuhan fasilitas tempat untuk mengajar mereka.
“Alhamdulilah, sejak setahun lalu hingga sekarang, saya bersama mereka mendapat fasilitas di masjid kankemenag. Selain meja kecil untuk belajar juga mendapat konsumsi. Jika hari biasa, digelar tiap Minggu pagi sampai siang. Namun di Bulan Ramadhan ini, dilakukan tiap Sabtu sore dilanjutkan buka bersama,” kata Mohtar, Jumat (6/3/2026).
Diakui, dalam membimbing mereka tidak mudah. Selain terkendala bahasa, kosa kata bahasa isyarat yang mereka kuasai masih minim, tidak seperti orang normal. Begitu bahasa isyarat yang diajarkan, daya serap mereka tidak sama. Ada yang langsung mengerti dan tidak, sehingga dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran.
Dijelaskan, semula dirinya tidak paham bahasa isyarat. Pada 2021, ia menyaksikan jamaah tabligh tunarungu di masjid di desanya, berdakwah menggunakan bahasa isyarat di dampingi penerjemah. Saat itu ia tertarik untuk belajar. Kemudian ia fokus bahasa isyarat selama beberapa hari, di pondok pesantren Magetan, Jawa Timur.
Mohtar mengungkapkan, selama ini, ia tidak memungut biaya alias tidak mendapat bayaran. Hanya saja terkadang, beberapa kali diberi uang sekadarnya oleh pihak kankemenag. Walaupun ia menjelaskan dirinya ikhlas mengajari mereka, tanpa minta imbalan.
Kepala Kankemenag Pamekasan, Mawardi, mengatakan, pihaknya memberikan fasilitas tempat belajar agama untuk komunitas disabilitas Gerkatin, karena sebelumnya tidak memiliki tempat, sehingga setiap bulan berpindah dari masjid ke masjid.
“Kami menyambut baik dan bangga, kegiatan belajar agama menggunakan bahasa isyarat yang dilakukan sahabat-sahabat disabilitas yang tergabung di komunitas Gerkatin. Apa yang mereka butuhkan kami siapkan. Seperti meja belajar, alat tulis, konsumsi dan honor sekadarnya untuk ustad pengajarnya,” kata Mawardi.