CEO New Zealand Australia Motivasi Santri IBS PKMKK Agar Percaya Diri dan Kritis

Mr Vaughan menjelaskan bahwa belajar bahasa asing itu tidak sulit jika dilakukan dengan ketekunan

PAMEKASAN, MADURANET– Ratusan santri IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK) mendapat pengalaman istimewa pada Senin (11/8/2025) malam. Mereka berkesempatan belajar langsung dari Lawson Vaughan Lewis, CEO New Zealand Australia, yang hadir untuk berbagi cerita, budaya, serta pembelajaran Bahasa Inggris.

Acara yang dikemas santai di halaman pondok ini, diawali perkenalan dan dialog interaktif. Mr Vaughan mengajak santri memperkenalkan diri, menceritakan aktivitas sehari-hari, dan menjawab pertanyaan dalam Bahasa Inggris.

“Belajar bahasa asing itu tidak sulit jika dilakukan dengan ketekunan. Kuncinya adalah jangan pernah berhenti belajar, never stop learning!,” ujarnya memberi semangat.

Suasana hangat membuat santri berani berbicara meski masih terbata-bata. Pujian seperti “Good job!” dan “Well done!” yang dilontarkan Mr. Vaughan memicu antusiasme. Santri yang berani berdialog mendapat bingkisan sebagai apresiasi.

Tidak hanya membahas bahasa, Mr. Vaughan juga menceritakan kehidupan dan sistem pendidikan di Australia yang mendorong siswa aktif, percaya diri, dan berpikir kritis. Ia menekankan pentingnya keterbukaan terhadap budaya baru serta keberanian mencoba meski belum sempurna.

Direktur IBS PKMKK, Achmad Muhlis menyebut kegiatan ini bagian dari upaya memperluas wawasan santri.

“Kami berkomitmen menghadirkan penutur asli, baik bahasa Arab maupun Inggris, agar santri mendapatkan pengalaman langsung yang tidak bisa didapat dari buku,” ungkapnya.

Pertemuan ini juga menjadi ajang pertukaran budaya, menumbuhkan rasa saling menghargai perbedaan. Acara ditutup dengan sesi tanya jawab seputar tips belajar bahasa, cerita perjalanan, hingga makanan khas Australia, sebelum foto bersama dan penyerahan cenderamata.

IBS PKMKK menegaskan, pembelajaran di pondok tidak hanya berlangsung di kelas. Menghadirkan narasumber internasional menjadi cara untuk membekali santri dengan keterampilan global, tanpa meninggalkan akar budaya dan nilai keislaman.

Exit mobile version