PAMEKASAN, MADURANET – Usaha batik tulis di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, Madura, menghadapi tantangan dari kenaikan biaya produksi hingga menurunnya pembeli.
Heriyanto, salah satu pemilik usaha batik tulis di Klampar, mengatakan kenaikan harga bahan baku tidak sepenuhnya dapat dibebankan ke harga jual. Akibatnya, keuntungan pengrajin semakin tertekan.
“Biaya bahan baku terus meningkat, sedangkan harga batiknya cuma naik Rp5.000,” kata Heriyanto.
Ia menyebut kenaikan biaya produksi tidak hanya berasal dari kain, tetapi juga malam dan ongkos tenaga kerja. Saat ini, harga malam mencapai sekitar Rp 35.000 per kilogram.
“Dulu, waktu batik masih jaya, harga malan masih 10 ribu sekilo, sekarang sudah Rp35 ribu, kainnya juga mahal, belum ongkos pekerja,” ujarnya.
Di tengah kenaikan biaya tersebut, Heri mengaku, minat masyarakat untuk membeli batik juga disebut menurun. Kondisi ini berbeda dibandingkan sekitar 2010-an ketika permintaan batik tulis masih tinggi.
“Dulu, sekitar 2010-an, enggak sampai ke pasar, masih basah saja sudah ada yang jemput mau beli,” kata Heriyanto.
Kini, Heriyanto harus menyesuaikan produksi dengan pesanan dan kondisi pasar. Di bangunan sederhana yang terbuat dari kayu dan bambu berukuran sekitar 20 x 6 meter, ia memproduksi sekitar 20 hingga 30 lembar batik tulis setiap pekan.
“Sekarang tergantung pesanan juga. Saya juga jual sendiri ke Pasar 17 Agustus kalau pas waktu pasaran,” ujarnya.
Proses produksi batik tulis sendiri membutuhkan waktu dan ketelitian. Kain terlebih dahulu diberi pola sesuai desain, kemudian bagian tertentu ditutup menggunakan malan, melalui proses mencanting agar tidak terkena pewarna.
Setelah itu, kain menjalani proses pewarnaan, pencucian, pengeringan, serta penutupan kembali menggunakan malam untuk pewarnaan berikutnya. Setelah seluruh warna selesai, malam dilorod, kemudian kain dikeringkan dan masuk tahap finishing sebelum dipasarkan.
Salah satu tahapan tersebut dikerjakan Rida (46), perajin batik yang bertugas menutup pola menggunakan malam. Pekerjaan itu membutuhkan ketelitian agar warna tidak merembes ke bagian kain yang tidak diinginkan.
“Tugas saya ini nutupin bunga dengan malam. Satu lembar kain batik ini saya diupah Rp2.500 sampai siap jual. Sehari saya bisa selesai sampai 20 lembar batik siap jual,” ujar Rida.
Pekerjaan tersebut, kata Rida, dilakukan berulang pada setiap lembar kain, dengan mengikuti pola yang telah dibuat sebelumnya. Ketelitian menjadi bagian penting karena kesalahan pada tahap ini dapat memengaruhi hasil akhir kain.
