Serapan Garam Pamekasan Baru 54 Persen, Stok 9.310 Ton Masih Tersimpan

Data hingga 31 Agustus mencatat produksi 20.217 ton dari tiga kecamatan, dengan 9.310 ton di antaranya masih menjadi stok.

Garam Madura, hasil tambak masyarakat Lembung, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, berkualitas premium.

PAMEKASAN, MADURANET – Serapan garam rakyat di Kabupaten Pamekasan tahun ini, masih menyisakan stok 9.310 ton, dari total produksi yang tercatat sebanyak 20.217 ton, per-31 Agustus.

Data tersebut disampaikan Kepala Dinas Perikanan Pamekasan, Abd Fata, berdasarkan laporan petugas statistik garam rakyat. Ia menerangkan, data itu mencakup produksi di tiga kecamatan, yakni Galis, Pademawu, dan Tlanakan.

Fata menjelaskan, dari angka tersebut, produksi yang sudah terserap atau keluar dari stok, sekitar 10.907 ton. Jika dihitung dari produksi yang tercatat, serapannya sekitar 54 persen.

Namun, lanjut dia, angka tersebut merupakan selisih antara produksi dan stok berdasarkan laporan statistik, bukan data pembelian yang dihimpun dari seluruh perusahaan penyerap.

“Stok garam sesuai laporan petugas statistik garam rakyat 9.310 ton, dari jumlah produksi 20.217 ton di tiga kecamatan,” kata Fata, Selasa (22/9/2026).

Dari total stok tersebut, Kecamatan Galis menjadi wilayah dengan stok garam terbesar, yakni 5.632 ton. Sementara stok di Kecamatan Pademawu tercatat 3.678 ton. Adapun produksi di Kecamatan Tlanakan mencapai 220 ton dan dalam laporan tersebut tidak tercatat stok garam.

Secara keseluruhan, produksi yang tercatat terdiri dari 9.844 ton di Galis, 10.153 ton di Pademawu, dan 220 ton di Tlanakan.

Fata memaparkan, produksi garam masih terus berjalan. Karena itu, angka produksi dan stok akan berubah seiring berlangsungnya musim produksi, pada September hingga Desember.

“Kami optimistis produksi tahun ini dapat mencapai target, karena kondisi kemarau yang relatif panjang dan kering,” ungkapnya.

Ia membeberkan sejumlah perusahaan, yang saat ini disebut menyerap garam Pamekasan, antara lain, PT Budiono Bangun Persada, PT Unichem Candi Indonesia, PT Garindo, PT Susanti Megah, dan PT Reka Cipta Garam Subsidiary Bawang Mas Group.

Selain perusahaan, kata Fata, Koperasi Setia Mitra Bhakti Lembung juga melakukan pembelian garam rakyat. Namun, Dinas Perikanan Pamekasan belum memiliki data kapasitas serapan masing-masing perusahaan.

“Dinas Perikanan tidak memiliki akses untuk mengetahui data serapan garam rakyat dari masing-masing perusahaan tersebut,” ujar Fata.

Sementara itu, Koperasi Setia Mitra Bhakti Lembung, telah membeli sekitar 1.500 ton garam rakyat, dengan harga Rp1.350 per kilogram, berdasarkan data per 17 September 2026.

Untuk terget penyerapan, Fata mengatakan pemerintah daerah, tidak memiliki regulasi yang menetapkan target pembelian garam oleh perusahaan. Kondisi itu membuat pemerintah kesulitan memastikan kebutuhan pembelian masing-masing perusahaan, dan membandingkannya dengan produksi petani.

“Kesulitan mengetahui akses kebutuhan pembelian perusahaan,” katanya.

Untuk harga sendiri, Dinas Perikanan mencatat, harga garam di tingkat petambak saat ini, berada di kisaran Rp1.350 per kilogram untuk kualitas KW 1, dan Rp1.100 per kilogram untuk KW 2.

Fata turut memaparkan tindakan petambak, yang mulai menyimpan garam di gudang masing-masing, sejak Agustus dan September. Mereka memilih menahan stok dengan harapan harga meningkat pada Desember hingga Januari.

Menurut Fata, pemerintah pemkab sendiri tidak bisa leluasa dalam soal garam. Itu dikarenakan, intervensi Pemkab Pamekasan dalam urusan pergaraman terbatas pembagian kewenangan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Ia menjelaskan, kewenangan wilayah pergaraman berada pada pemerintah provinsi. Sementara Pemkab Pamekasan berperan dalam pembinaan Kelompok Usaha Garam Rakyat (KUGAR).

“Pemkab hanya pembinaan kelembagaan KUGAR, memfasilitasi pengajuan bantuan sarana dan prasarana kepada pemerintah provinsi, maupun Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta membantu fasilitasi perizinan pengolahan garam krosok menjadi garam konsumsi saja,” tegasnya.

Meski demikian, Fata mengatakan, pemerintah juga terus memantau perkembangan produksi dan stok garam rakyat. Dengan produksi yang masih berjalan hingga akhir tahun, angka stok 9.310 ton tersebut masih berpotensi berubah. Pemerintah berharap peningkatan permintaan dan harga pada akhir tahun dapat mendorong petani melepas stok yang saat ini masih disimpan.

Exit mobile version