PAMEKASAN, MADURANET – Khoiril Umam atau Haji Her awalnya tidak memiliki pengetahuan tentang bisnis garam. Namun, keinginannya membantu petani, membuat CEO PT Bawang Mas Group itu mulai membeli garam pada 2023.
Saat itu, Haji Her mengaku hanya meminta orang kepercayaannya membeli garam dari petani. Ia tidak mengetahui secara detail lokasi gudang maupun proses bisnis garam tersebut.
“Saya tidak ngerti ilmu garam itu seperti apa, nggak tahu. Waktu itu saya nyuruh orang, kamu beli garam, bantu petani,” kata Haji Her, Senin (21/9/2026).
Ia mulai serius membeli garam, setelah mengetahui harga pokok produksi (HPP) petani, berada di kisaran Rp1.600-Rp1.700 per kilogram.
Bahkan setelah kondisi mulai memburuk pada 2024, ketika harga garam anjlok hingga sekitar Rp800 per kilogram. Ia kemudian meminta pembelian tetap dilakukan dengan harga minimal Rp1.000 per kilogram.
“Saya bilang ke yang beli itu, jangan beli garam di bawah harga 1.000. Udah, beli sebanyak-banyaknya. Minimal harga Rp1.000. Jangan sampai petani rugi, petani itu harus untung,” ujarnya.
Pembelian pun dilakukan dalam jumlah besar. Haji Her mengatakan langkah tersebut sejak awal bukan semata-mata untuk mencari keuntungan, tetapi membantu petani agar tetap memiliki pasar saat harga garam turun.
“Saya nggak ngerti ilmu garam, tapi saya beli garam dengan niat membantu petani,” katanya.
Dari aktivitas tersebut, bisnis garam Haji Her kemudian berkembang. Kini, ia resmi mendirikan PT Reka Cipta Garam, perusahaan baru yang merupakan bagian dari Bawang Mas Group. Perusahaan tersebut berada di Desa Majungan, Kabupaten Pamekasan, dan bergerak di bidang garam.
Haji Her mengatakan, keputusan mengembangkan usaha garam berawal dari niat membantu petani. Ia menyebut pembelian garam yang dilakukan sejak 2023, akhirnya memberikan hasil positif bagi perusahaannya.
“Bahwa segala sesuatu yang kita niatkan dengan baik, insya Allah hasilnya akan baik. Kita untung 100 persen,” ujarnya.
