PAMEKASAN, MADURANET – Hamparan tanaman tembakau di lahan milik Khoiron Rosadi (31) tampak berbeda dari kebun pada umumnya. Satu per satu tanaman induk diselimuti kain putih yang menutupi bagian bunga.
Bagi pemuda asal Desa Samatan, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, kerudung atau kain putih itu, bukan sekadar penutup tanaman. Cara itu menjadi bagian penting dalam menjaga kemurnian bibit tembakau agar menghasilkan benih unggul.
Di lahan seluas sekitar 1.100 meter persegi, Khoiron membudidayakan sekitar 2.000 tanaman tembakau khusus untuk penangkaran benih. Selama lima tahun terakhir, ia konsisten mengembangkan metode tersebut.
“Tahun sebelumnya dilakukan di Kecamatan Pegantenan. Desa Samatan, Kecamatan Proppo baru tahun ini,” ucapnya.
Saat di kebun, Selasa (28/7/2026), Khoiron tampak memeriksa satu per satu tanaman yang telah dikerudungi. Sesekali ia membenahi posisi kain penutup agar tetap rapat menutupi bunga tembakau.
Menurutnya, kualitas tembakau berawal dari benih. Karena itu, proses pembibitan menjadi tahapan yang tidak boleh diabaikan.
“Ini dibuat bibit agar tidak terjadi perkawinan silang. Jadi varietas yang dihasilkan nanti tetap murni sesuai dengan jenis tanamannya,” kata Khoiron.
Ia menjelaskan, kerudung dipasang untuk mencegah penyerbukan silang antartanaman yang dapat mengubah karakter varietas. Dengan cara tersebut, benih yang dihasilkan memiliki kemurnian genetik dan kualitas yang lebih seragam.
Selain menjaga kemurnian varietas, kain juga berfungsi melindungi bunga dan bakal biji dari serangan hama maupun cuaca ekstrem yang dapat memengaruhi kualitas benih.
Pemuda Lulusan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu mengatakan, tidak semua tanaman dijadikan indukan. Tanaman dipilih secara selektif berdasarkan kondisi pertumbuhan dan jumlah bunga yang dihasilkan.
“Tidak semua dikerudugi. Tetap dipilih indukan yang memiliki bunga banyak dan sehat,” ujarnya.
Khoiron mengakui, menghasilkan benih berkualitas membutuhkan ketelatenan serta biaya perawatan yang lebih besar dibandingkan menanam tembakau untuk diambil daunnya.
Meski demikian, ia meyakini benih yang baik menjadi investasi penting bagi petani karena mampu menghasilkan tanaman yang tumbuh lebih seragam dan memiliki kualitas daun yang lebih baik saat panen.
Menurutnya, menjaga kualitas benih juga menjadi tantangan tersendiri di tengah perubahan iklim yang semakin tidak menentu.
Pada awal menerapkan metode tersebut, keberadaan tanaman yang diselimuti kerudung sempat mengundang perhatian warga. Bahkan, sebagian warga melontarkan candaan bahwa tembakaunya sudah “berangkat haji” lebih dulu karena bagian atas tanamannya tertutup kain putih.
“Semoga jadi harapan dan doa. Tapi setelah saya jelaskan tujuannya, mereka mengerti. Kalau awal-awal memang terkejut karena ini baru pertama di sini,” ujar Khoiron sambil tersenyum.
Pada musim tanam tahun ini, Khoiron menangkarkan dua varietas tembakau, yakni Prancak 95 dan Tarnyak Ulangan 1 N40. Kedua varietas tersebut dipilih karena dinilai memiliki karakter yang baik dan telah dikenal menghasilkan tembakau berkualitas.
“Kalau ini tujuannya untuk penangkaran, daunnya memang tidak untuk diperjualbelikan. Jadi yang dipelihara bukan daunnya, melainkan mahkota bunganya,” tandas Khoiron.
