Harga Telur Terjun Usai MBG Libur

Setelah sempat menembus Rp 30.000 per kilogram, harga telur kini turun di kisaran Rp 22.000 hingga Rp 24.000 per kilogram di sejumlah pasar tradisional.

Rusmiati saat menunggu pembeli di Pasar Kolpajung Pamekasan, Jumat (3/7/2026).

PAMEKASAN, MADURANET – Harga telur ayam di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, mulai mengalami penurunan di awal Juli ini, setelah sebelumnya sempat melonjak hingga Rp 30.000 per kilogram dalam beberapa pekan terakhir.

Salah seorang warga Desa Pakong, Uswatun Hasanah (46), mengaku merasakan langsung penurunan harga komoditas tersebut saat berbelanja kebutuhan rumah tangga.

Menurut dia, harga telur yang sebelumnya berada di kisaran Rp 29.000 hingga Rp 30.000 per kilogram, kini turun cukup signifikan.

“Tadi pagi saya ke pasar, harga telur sudah Rp 22.000 per kilo. Sebelumnya saya beli di kisaran Rp 29.000 sampai Rp 30.000,” ujar Uswatun, Selasa (21/4/2026).

Ia mengaku senang dengan turunnya harga telur karena bahan pangan tersebut menjadi salah satu kebutuhan pokok yang rutin dikonsumsi keluarganya.

Uswatun mengatakan, dirinya hampir setiap pekan membeli telur untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari di rumah.

“Setiap minggu saya beli sekitar satu kilo untuk konsumsi keluarga. Rumah saya dekat pasar, jadi tidak harus beli banyak atau tiap hari,” katanya.

Sementara itu, pedagang di Pasar Kolpajung Jalan Ronggosukowati, Pamekasan, Rusmiati (51), menyebut harga telur di tingkat pedagang saat ini berada di angka Rp 24.000 per kilogram, yang menurutnya harga tersebut merupakan harga kulakan terbaru yang baru diambil dari peternak pada pagi hari.

“Untuk hari ini Rp 24.000. Baru tadi pagi saya ambil dari peternak,” ujarnya.

Rusmiati menjelaskan, sekitar dua pekan lalu harga telur sempat melonjak cukup tinggi sebelum aktivitas MBG dihentikan sementara. Saat itu, harga telur di pasaran bahkan menembus Rp 30.000 per kilogram akibat tingginya permintaan.

“Dua minggu lalu sebelum MBG libur, harga telur luar biasa, sampai Rp 30.000 per kilo,” kata dia.

Namun, setelah program tersebut berhenti sementara, harga langsung turun drastis hingga menyentuh Rp 22.000 per kilogram. Setelah itu, harga perlahan kembali bergerak naik ke angka Rp 23.000 sebelum kini mencapai Rp 24.000 per kilogram.

“Mungkin nanti kalau MBG aktif lagi, harga bisa langsung naik lagi,” ujarnya.

Sementara itu, seorang peternak ayam petelur Taufiqunnur Efendi asal Dusun barat, Desa Potoan Laok, Kecamatan Palengaan, mengatakan fluktuasi harga telur sangat dipengaruhi tingkat kebutuhan pasar.

Ia menjelaskan, saat permintaan meningkat tajam beberapa waktu lalu, peternak sempat kewalahan memenuhi kebutuhan distribusi.

“Kemarin permintaan telur cukup tinggi, kami sempat kewalahan. Kalau kebutuhan pasar naik, otomatis harga ikut naik,” katanya.

Menurut dia, kenaikan harga saat program MBG berjalan merupakan hal yang wajar karena adanya peningkatan kebutuhan dalam jumlah besar.

Karena itu, ia memprediksi harga telur berpotensi kembali mengalami kenaikan dalam waktu dekat, terutama saat aktivitas sekolah mulai berjalan normal.

“Nanti ketika sekolah mulai masuk lagi, kemungkinan harga telur akan naik lagi,” ujarnya.

Exit mobile version