PAMEKASAN, MADURANET – Antrean panjang kendaraan terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, dalam beberapa hari terakhir.
Salah satu antrean terpadat terlihat di SPBU Pertamina 54.693.02 Jalan Trunojoyo, Laden, Pamekasan, Selasa (30/6/2026).
Pantauan di lokasi, antrean kendaraan didominasi truk dan kendaraan berbahan bakar solar subsidi. Barisan kendaraan mengular hingga ratusan meter dan mencapai kawasan depan Taman Makam Pahlawan Pamekasan.
Sejumlah pengendara mengaku mulai mengantre sejak pagi, bahkan sebagian kendaraan disebut sudah berada di lokasi sejak malam sebelumnya demi mendapatkan solar subsidi.
Salah seorang sopir truk, Ilham Wahyudi, warga Penglegur, Pamekasan, mengatakan dirinya mulai mengantre sejak pukul 07.00 WIB. Saat tiba di lokasi, antrean kendaraan sudah lebih dulu memenuhi area SPBU.
“Saya dari jam 07.00 pagi, tapi bukan antrean depan. Kalau yang di depan mungkin dari malam atau kemarin sudah antre,” kata Ilham saat ditemui di lokasi.
Ilham mengaku kondisi tersebut mulai berdampak pada pekerjaannya sebagai sopir angkutan barang. Ia bahkan terpaksa membatalkan sejumlah jadwal pengiriman karena waktu habis untuk menunggu antrean solar.
Menurut dia, dalam satu hari setidaknya ada dua muatan yang terpaksa dibatalkan karena tidak memungkinkan mengejar waktu distribusi.
“Biasanya saya angkut macam-macam, sembako kadang minyak. Hari ini ada dua muatan yang saya batalkan karena tidak nutut mengejar antrean ini. Akhirnya cuma bisa ambil satu,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Mahmud, sopir truk asal Rampenang, Kabupaten Sampang, yang ikut mengantre di lokasi tersebut.
Mahmud mengatakan dirinya mulai masuk antrean sejak pukul 08.00 WIB. Namun sebenarnya kesulitan mendapatkan solar sudah ia alami sejak sehari sebelumnya ketika mencoba mencari BBM di wilayah jalur Pantura Madura.
“Saya antre dari jam 8 pagi. Dari kemarin sebenarnya sudah cari solar, tapi di Pantura tidak ada. Makanya saya lari ke kota buat cari solar,” kata Mahmud.
Menurut dia, banyak sopir akhirnya memilih menuju pusat kota Pamekasan setelah mengetahui sejumlah SPBU di wilayah Pantai Utara Madura kehabisan stok solar subsidi.
Ia mengaku terpaksa rela menghabiskan waktu berjam-jam di antrean karena tidak memiliki pilihan lain untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Memang di Pantura solar habis semua, jadi ya terpaksa antre di sini,” ujarnya.
Kondisi tersebut, lanjut Mahmud, membuat para sopir berada dalam posisi sulit. Jika tidak segera mendapatkan solar, aktivitas angkutan barang terancam berhenti dan berdampak langsung pada penghasilan mereka.
“Kalau begini terus saya bisa tidak muat barang, tidak bisa kerja. Harapan saya semoga semua kembali normal,” katanya.
Sementara itu, Mahmud menduga antrean panjang dipicu kosongnya stok solar di sejumlah SPBU jalur Pantura Madura. Informasi tersebut membuat banyak kendaraan besar akhirnya masuk ke wilayah kota Pamekasan untuk mencari BBM.
“Teman-teman ada info kalau di Pantura itu banyak yang kosong. Solar kosong, jadi banyak yang ke kota,” katanya.
Ia berharap pemerintah bersama PT Pertamina Patra Niaga segera mengambil langkah cepat dengan menambah kuota solar subsidi agar aktivitas distribusi barang tidak terus terganggu.
“Harapan saya buat pemerintah supaya diprioritaskan solar ini. Karena yang antre banyak mobil pekerja seperti truk dan bus, bukan kendaraan pribadi. Kepada Pertamina dan pemerintah, kuota solarnya ditambah supaya tidak terjadi hambatan seperti sekarang,” pungkasnya.
