PAMEKASAN, MADURANET – Sejumlah warga di Dusun Tlanduh, Desa Kertagenah Laok, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan harus menempuh jarak hingga satu kilometer demi mendapatkan air bersih.
Kondisi tersebut dirasakan warga Dusun Tlanduh I dan Tlanduh II. Mereka mengandalkan satu-satunya sumur yang masih memiliki sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Umayah (58), warga Dusun Tlanduh, mengatakan sumur tersebut menjadi sumber air bagi masyarakat dari tiga dusun di wilayah tersebut selama musim kemarau.
“Masyarakat dari tiga dusun mengambil air dari sumur ini. Hanya ini satu-satunya sumber air yang bisa diandalkan di sini,” ujar Umayah.
Setiap hari, warga datang dengan membawa jeriken maupun wadah air lainnya. Mereka bahkan harus berjalan kaki hingga sekitar satu kilometer untuk mendapatkan air.
“Setiap hari kami rela berjalan kaki sampai satu kilometer untuk mengangkut air demi memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Persoalan tak berhenti pada jarak yang harus ditempuh. Sesampainya di lokasi, warga masih harus mengantri cukup lama untuk mendapatkan giliran menimba air.
Menurut Umayah, antrian bisa berlangsung hingga berjam-jam karena jumlah warga yang membutuhkan air cukup banyak. Sementara sumber air yang tersedia sangat terbatas.
“Sumber mata air di daerah sini hanya satu. Jadi kami harus berbagi dengan masyarakat yang mengambil air. Antriannya bisa sampai satu hingga empat jam,” ungkapnya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Pamekasan segera memberikan bantuan air bersih kepada masyarakat. Terlebih, kondisi sumur yang selama ini menjadi tumpuan warga mulai mengalami penyusutan.
“Saya berharap ada bantuan air bersih dari pemerintah untuk masyarakat di sini. Kondisi air sumur sudah menipis, sementara kebutuhan masyarakat meningkat selama musim kemarau,” harapnya.
Keluhan serupa disampaikan Sri (62), warga Dusun Tlanduh II. Ia mengatakan kesulitan mendapatkan air bersih tersebut telah berlangsung hampir dua bulan.
Menurutnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan air bersih dalam jangka pendek, tetapi juga solusi permanen agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.
“Kondisi seperti ini sudah berlangsung sekitar dua bulan. Kami berharap ada bantuan pengeboran sumber air untuk tiga dusun yang terdampak sebagai solusi jangka panjang,” pungkasnya.
