PAMEKASAN, MADURANET – Tawaran tembakau petani di sejumlah daerah di Kabupaten Pamekasan semakin turun. Pada saat awal panen, harga per pohon berkisar Rp 2.000 sampai Rp 2.500. Namun, akhir-akhir ini tawaran pedagang semakin ngawur.
Per pohon, sudah di harga Rp 1.000 sampai Rp 1.500. Tawaran harga semacam ini, salah satunya dialami petani tembakau asal Desa Sukolela, Kecamatan Kadur.
Hasimah, salah satu petani menjelaskan, sudah banyak pedagang yang melihat langsung ke sawahnya untuk menawar tembakaunya. Namun tawarannya pedagang menguji kesabarannya karena sudah di luar harga yang wajar.
“Sudah sepekan ini banyak pedagang yang tawarannya tidak masuk akal. Dikira kami petani akan mudah menyerahkan dengan harga murah,” ujar Hasiman, Selasa (19/8/2025).
Hasimah menambahkan, ada beberapa petani yang melepas tembakaunya di harga Rp 2.000 per pohon. Itupun tanamannya tidak bagus karena berkali-kali terkena hujan, sehingga daunnya tipis dan kandungan airnya tinggi.
“Tembakau yang terkena hujan dengan yang tidak kena hujan pasti berbeda. Saat ini sudah dianggap sama antara jenis keduanya,” imbuhnya.
Tahun lalu, harga per pohon paling rendah Rp 4.000. Harga tersebut stabil sampai tembakau di sawah petani terserap semua. Bahkan, untuk tembakau di pegunungan harganya sampai Rp 5.000. Padahal, tinggi pohon tembakau gunung lebih pendek dibanding tembakau sawah dan tegal.
“Pedagang sudah tahu membedakannya. Namun, sekarang ini maunya pedagang dibuat rata harganya,” ungkapnya.
Abdul Hamid, petani lainnya menjelaskan, tawaran harga pedagang dengan pengusaha tembakau sudah tidak jalan. Pedagang ingin petani rugi, sedangkan pengusaha ingin mengangkat harga tembakau petani.
“Saya dengar pengusaha dan pemerintah ingin harga tembakau petani mahal. Namun pedagangnya, justru menawar dengan harga yang tidak masuk akal,” ungkap Abdul Hamid.
