Sate Lalat Ikon Kuliner Pamekasan Warisan Leluhur yang Diberi Nama Orang Luar Madura

Sate lalat warisan generasi ke generasi dengan bentuk dan ukuran mungil menjadi ikon kuliner Pamekasan

Makki, penjual sate lalat di Jalan Stadion Pamekasan, Jumat (20/2/2026).

PAMEKASAN, MADURANET — Asap tipis membumbung dari panggangan arang di sudut Jalan Stadion, Kabupaten Pamekasan, Madura. Di balik kepulan itu, Makki (47), warga Desa Sentol, Kecamatan Pademawu, tekun membolak-balik tusukan daging berukuran mini.

Warga mengenalnya sebagai salah satu penerus kuliner khas Pamekasan, “sate lalat” Pak Nasir, kuliner rakyat yang jejaknya dapat ditarik mundur hingga dekade 1960-an.

Makki bukan generasi pertama. Ia mewarisi resep dari ayahnya, Nasir, yang telah berjualan sejak 1970-an.

“Ayah saya mulai sekitar tahun tujuh puluhan. Tapi sebenarnya beliau meneruskan dari kakek, kira-kira sejak tahun enam puluhan,” kata Makki, ditemui Jumat (20/2/2026).

Ia mengaku tak mengetahui secara pasti asal-usul istilah ssate lalat. Namun ukuran satenya yang kecil, dengan potongan daging mungil dalam satu tusuk, membuat orang Jawa menyebutnya “sate laler”.

“Yang memberi nama itu orang Jawa, bukan orang Pamekasan,” ujarnya.

Ciri khas pedagang sate lalat, menurut Makki, terletak pada cara berdagangnya. Sebuah bakul (keranjang) disampirkan di sisi kiri dan kanan. Di sanalah daging, bumbu, serta peralatan disimpan.

“Bakul di kiri itu seperti identitas. Daging dan bumbu ada di situ, alat-alat juga,” katanya.

Secara rasa, sate lalat tak jauh berbeda dari sate Madura pada umumnya, menggunakan bumbu kacang kental dengan bahan daging ayam atau kambing. Bedanya, potongan daging dibuat lebih kecil sehingga dalam satu porsi bisa terdiri dari banyak tusukan.

Meski tak mengetahui detail sejarah penamaannya, Makki meyakini sebutan itu lahir dari spontanitas pembeli.

“Karena kecil seperti lalat, mungkin begitu asal-usul penamaannya,” katanya sambil tersenyum.

Makki menyebut, usaha ini merupakan titipan dari para pendahulu. Banyak keturunan kakeknya yang kini tersebar di Pamekasan dan tetap berjualan sate lalat.

“Saya sempat bekerja di tempat lain. Tapi resep itu diturunkan ke saya. Akhirnya saya juga berjualan,” ujarnya.

Ia berpendapat, resep yang diwariskan lintas generasi itu menjadi modal usaha sekaligus ekonomi bagi keluarga. Bagi Makki, meneruskan usaha berarti menjaga nama baik orang tua dan kakeknya.

Pada era 1970-an, Nasir, ayah Makki berjualan di kawasan Jalan Trunojoyo. Namun terkena relokasi dan penertiban pedagang kaki lima membuat lapaknya kerap tergusur. Ia kemudian berpindah ke Jalan Niaga.

“Dulu kalau sudah mulai ramai, suka diusir. Jadi pindah-pindah. Kalau sekarang sudah enak jualan karena tidak ada relokasi,” kata Makki.

Mobilitas itu menjadi bagian dari sejarah panjang pedagang kaki lima di berbagai kota, termasuk Pamekasan. Bertahan dengan berpindah lokasi menjadi strategi agar dapur tetap mengepul.

Kini, Makki menilai kondisi berjualan lebih stabil. Ia dapat menempati lokasi tetap tanpa harus khawatir digusur sewaktu-waktu.

Lebih dari sekadar makanan, sate lalat bagi Makki adalah warisan keluarga yang bertahan melewati zaman, dari 1960-an hingga kini. Di sudut Kota Pamekasan, tusukan-tusukan kecil itu terus berputar di atas bara arang.

Ukurannya boleh mungil, tetapi kisahnya telah melintasi lebih dari setengah abad, mengukuhkan sate lalat sebagai bagian dari memori kuliner Pamekasan.

Exit mobile version