Selamat Jalan Sang Ensiklopedi Berjalan, In memoriam Sir Mashur Abadi

AKU termangu saat mendengar kabar wafat beliau, yang akrab kupanggil Sir Mashur. Lima tahun lalu aku mengenal beliau, yang bagiku beliau melampaui sekedar kolega kampus atau dosen senior, tapi “ensiklopedi berjalan” dengan keluasan wawasan yang luar biasa.

Berdiskusi dengan beliau seperti membuka kamus raksasa yang selalu menghadirkan halaman baru. Setiap kalimat yang beliau sampaikan berisi “daging” semua, alias padat, berbobot dan bermutu, mengandung inspirasi dan gagasan baru. Setiap ada kesempatan bertemu dan ngobrol dengan beliau, aku refleks merogoh buku saku di tas ku, mencatat cepat setiap angle yang keluar dari lisan beliau. Rasanya aku seperti mengikuti lomba menulis cepat, saking aku tidak mau ketinggalan setiap serpihan mutiara pemikiran beliau yang begitu cemerlang.

Apapun tema diskusinya, baik itu bahasa Arab, pengabdian masyarakat, filsafat, kajian keislaman hingga persoalan sosial, selalu saja beliau jawab dengan cepat, tepat, mengena sasaran, membuat pikiranku makin “melek” dan kepala mengangguk-angguk takjub.

Aku pertama mengenal beliau pada tahun 2020, saat menjadi dosen baru di IAIN Madura. Siang itu aku ke kantor LPPM untuk mengumpulkan proposal Pengabdian masyarakat (PKM), sebagai syarat mengikuti pelatihan metodologi pengabdian masyarakan. Aku datang dengan sedikit gamang dan ragu karena belum paham metodologi PKM secara utuh. Kegamangan itu kusampaikan jujur. Beliau langsung membuka diskusi, dan membagi ilmu dengan bahasa membumi, “Mulailah dari nurani dulu, metodologi menyusul. Kepedulian adalah modal utama, dan teknik datang belakangan.” Sederhana namun menghujam, kalimat itu langsung membuka cara pandangku.

Kesinambungan kemudian merentang dari keilmuan hingga pengabdian masyarakat. Aku memiliki jaringan donatur Timur Tengah yang membantu desa-desa kering di Madura. Sejak 2017 hingga 2025, bersama tim, kami mendampingi lebih dari lima belas desa. Saat beliau mengetahui kegiatan pengabdian ini, beliau sangat antusias mendukung dan terus menyumbangkan gagasan segar untuk pengembangannya. Pernah dalam satu diskusi beliau berkata, “Jadikan ini yayasan yang berdiri kokoh, punya identitas dan visi sendiri.” Kemudian beliau mengusulkan nama untuk yayasan ini, dan dari sanalah lahir nama MAIFOUNDATION (Muassasah Amal Insaniy Foundation, artinya Yayasan Amal Kemanusiaan). Satu kebetulan yang menyenangkan, singkatan nama itu mirip nama depanku.

Selain itu, masih tentang kegiatan pengabdian masyarakat, lalu aku mempertemukan jaringan Timur tengah ku kepada beliau yang sedang menjabat sebagai ketua LPPM. Dari pertemuan itu lahirlah sebuah Focus Group Discussion (FGD) bersama para akademisi dan donatur, yang kemudian berkembang menjadi gagasan Seminar Internasional Pengabdian Masyarakat.

Seminar internasional itu akhirnya terselenggara dua tahun berturut-turut, pada 2021 dan 2022, dengan IAIN Madura sebagai tuan rumah, dan Prof. Dr. H. Mohammad Kosim, M.Ag Rektor IAIN Madura saat itu memberikan sambutan di acara ini. Para pembicara hadir dari Libya, Sudan, Arab Saudi, Lebanon, Mesir, serta berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia.

Diskusi soal bahasa Arab dengan beliau selalu membawa perspektif yang segar. Beliau memandang bahasa sebagai wahana peradaban, jauh melampaui fungsinya sebagai alat komunikasi biasa. Saat membahas pengajaran bahasa Arab yang dialogis, beliau melontarkan kalimat yang terus aku bawa, “Ajarkan bahasa Arab dengan seluruh ruh peradabannya. Bawa mahasiswa masuk ke dunia yang hidup di balik setiap kalimat Arab yang kita ajarkan.” Kalimat itu langsung menjadi kompas bagiku sebagai dosen.

Berdiskusi dengan beliau selalu melahirkan rasa haus untuk terus belajar.

Ada lagi, tentang garapan buku terjemah dari kitab Fadhā’iḥ al-Bāṭiniyyah wa Faḍā’il al-Mustazhhiriyyah karya Imam Ghazali. Suatu siang, saat bincang santai tentang pemikiran Imam Ghazali bersama beberapa dosen, panjang lebar berdiskusi, tiba-tiba beliau langsung menunjuk kami untuk menggarap proyek terjemahan dari kitab monumental tersebut.

Aku sebenarnya kurang percaya diri, mengingat aku belum pernah terjun dalam penerjemahan kitab tasawuf dan pemikiran yang begitu kompleks. Tapi beliau meyakinkan kami.

Dengan penuh antusias, beliau memaparkan pokok-pokok gagasan dari kitab ini secara ringkas, ringan dan jernih. Dalam hitungan menit, Pembahasan yang awalnya terasa berat jadi mudah dipahami. Sayangnya, buku ini, hingga hari ini masih belum kami rampungkan.

Tentu masih banyak lagi inspirasi yang saya dapat dari beliau, sang Guru tanpa papan tulis.

Aku menulis ini sebagai ungkapan syukur sekaligus penghormatan pada beliau. Dari beliau, aku belajar bahwa ilmu sejati adalah ilmu yang dijalani sepenuh hati dengan kerendahan hati, kepedulian sosial, dan cinta pada peradaban.

Semoga Allah melimpahkan rahmat dan maghfirah-Nya kepada beliau, melapangkan alam kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Selamat jalan, Sir.

Penulis: Dr. Siti Maisaroh, Lc, M.Pd.I, Dosen Pendidikan Bahasa Arab UIN Madura

Exit mobile version