MADURANET — Keteladanan Makna Versus Keteladanan Simbolik yang akhir-akhir ini menjadi fenomena menarik dan mengemuka bagi masyarakat Madura, yakni dengan memudarnya bahkan hilangnya keteladanan makna dalam kehidupan masyarakat, yang mulai tergantikan oleh dominasi keteladanan simbolik.
Secara filosofis, fenomena ini tidak sekadar menunjukkan perubahan preferensi sosial, melainkan mengindikasikan krisis dalam cara masyarakat memahami kebaikan, kesalehan, dan kepantasan moral. Keteladanan, yang sejatinya bersifat eksistensial dan berakar pada perilaku hidup, mengalami reduksi menjadi representasi simbolik, yakni apa yang tampak, dipuja, dan diviralkan. Dalam konteks ini, nilai kehilangan kedalaman makna, dan moralitas tereduksi menjadi identitas visual serta narasi performatif.
Seharusnya keteladanan makna ditandai oleh kesabaran jangka panjang, konsistensi ritual tanpa panggung, serta kerja sunyi tanpa pengakuan dan pencitraan. Keteladanan jenis ini tidak bergantung pada pengakuan publik, melainkan pada keberlangsungan perilaku dalam waktu yang panjang. Keteladanan makna berfungsi sebagai mekanisme transmisi nilai yang efektif. Nilai diturunkan melalui pengamatan langsung terhadap kehidupan figur-figur yang konsisten menjalani kebenaran, bukan melalui simbol atau retorika. Figur teladan makna berperan sebagai pengikat kesadaran kolektif, yang menjaga stabilitas moral masyarakat.
Dominasi keteladanan simbolik muncul ketika masyarakat memberikan ruang lebih besar kepada figur yang cepat naik secara simbolik, viral secara sosial, dan kuat secara narasi, tetapi lemah secara praksis. Ini menandai pergeseran logika legitimasi sosial, dari konsistensi hidup menuju visibilitas publik. Keteladanan simbolik beroperasi melalui lambang, identitas, dan citra. Ia tidak menuntut kesabaran waktu, karena legitimasi diperoleh secara instan.
Dalam konteks ini, simbol menjadi alat untuk meraih pengakuan sosial, bukan refleksi dari integritas moral. Akibatnya, masyarakat mengalami distorsi evaluatif, kesulitan membedakan antara yang tampak baik dan yang sungguh bermakna. Kegagalan fundamental masyarakat dalam membedakan antara yang tampak baik dan yang sungguh bermakna, yang disimbolkan dan yang dijalani, yang dipuja dan yang diteladani.
Kegagalan diferensiasi ini menunjukkan krisis epistemologis moral, penilaian etis tidak lagi didasarkan pada proses hidup, tetapi pada citra permukaan. Keteladanan kehilangan dimensi ontologisnya sebagai perilaku eksistensial dan berubah menjadi artefak sosial yang dapat direkayasa.
Dominasi keteladanan simbolik berdampak langsung pada proses internalisasi nilai. Individu, khususnya generasi muda, tidak lagi membangun kesadaran moral melalui penghayatan perilaku hidup yang nyata, melainkan melalui kekaguman terhadap figur simbolik.
Hal ini melemahkan pembentukan self-regulation dan moral consistency. Ketika teladan tidak menampilkan proses jatuh-bangun, kerja sunyi, dan konsistensi jangka panjang, maka nilai menjadi sesuatu yang dikagumi tetapi tidak dijalani. Muncul jarak psikologis antara nilai dan praktik hidup sehari-hari.
Keteladanan sejati bersifat eksistensial, bukan representasional. Ia tidak membutuhkan sorotan, tetapi membutuhkan keberanian hidup dalam konsistensi. Keteladanan semacam ini menuntut keteguhan menghadapi kesunyian, keterbatasan, dan ketiadaan pengakuan.
Keteladanan makna memberi individu sense of coherence, kesatuan antara nilai, tindakan, dan makna hidup. Sebaliknya, keteladanan simbolik cenderung menghasilkan fragmen identitas, di mana nilai hanya hidup di ranah simbol, bukan pengalaman nyata.
Hilangnya keteladanan makna bukan akhir segalanya, melainkan peringatan historis. Masyarakat yang terlalu lama hidup dalam simbol dan identitas akan kehilangan arah moral. Identitas tanpa makna akan menjadi kosong, dan simbol tanpa perilaku akan kehilangan daya etisnya.
Namun, masyarakat yang berani kembali pada makna, kerja sunyi, kejujuran, dan istiqamah akan menemukan kembali jati dirinya. Pemulihan moral tidak dimulai dari perubahan simbol, tetapi dari rekonstruksi perilaku hidup.
Keteladanan Makna Versus Keteladanan Simbolik menegaskan bahwa krisis moral Masyarakat, berakar pada pergeseran dari etika perilaku ke estetika simbol. Keteladanan tidak lagi diukur dari kesetiaan pada kebenaran, melainkan dari kepatuhan pada tanda-tanda lahiriah agama dan moral.
Struktur pengakuan sosial telah berubah, dan akan mengungkap dampaknya terhadap pembentukan kesadaran dan regulasi diri individu. Dengan demikian, narasi ini bukan sekadar kritik sosial, tetapi seruan reflektif, bahwa keteladanan sejati bukan soal siapa yang paling tampak shaleh berdasarkan aturan agama, melainkan siapa yang paling konsisten hidup dalam kebenaran, meski tanpa tepuk tangan, dan tanpa pujian.
